Ketupat dan Penghuni Potret

Tubuh di lantai itu tiba-tiba tersentak. Secepat kilat matanya menyapu seluruh ruangan kamar, secepat hatinya yang terbang mengejar kenangan. Ia terbangun. Bukan malaikat yang membangunkannya kembali. Tetapi ketupat. Tak perlu menunggu kesadaran kembali utuh dan pulih, atau sekadar otot siap menangkap instrukti otak. Ia langsung beranjak merobek waktu.

Di luar, didapati bapaknya sedang duduk termenung menggenggam sebuah potret. Penghuni potret telah ia lupakan, karena hanya ketupat yang teringat. “Pak, mana ketupatku?” Ia bertanya atau menuding. Bapaknya tak menjawab, hanya diam. Dipandangi anak semata wayangnya dengan pandangan penuh penjelasan. Ada bekas sayatan sembilu tergambar jelas di wajahnya. Begitu kuat matanya menahan awan hitam yang hendak mencurahkan hujan. “Pak, mana ketupatku?” Kali ini mata itu hampir rapuh. Tanpa sadar, setetes embun bening tak kuasa ia tahan. Ia lolos di sudut matanya, jatuh terjermbab di pipinya yang terlihat lebih tua. Bapak itu menunduk, menguburkan semua lukanya jauh ke dalam sanubarinya.


Dengan tergesa tubuh itu berjalan, tak mau terdahului oleh kecepatan angan yang bergerak bagai cahaya. Atau lari menerjang waktu, menjauh dari kenangan. Tak perlu mengetuk pintu, ia masuki rumah neneknya. Seorang nenek tua berwajah teduh berdiri menyambut. Ia sembunyikan potret dan penghuninya di balik punggungnya. Di wajahnya terlukis seutas senyum getir, bagai satire yang menertawakan luka kalbunya. Ia selalu siap menerima cucunya. “Nek, mana ketupatku?” Senyum itu kembali terulang, kembali menggores hatinya. Ia rengkuh tubuh cucunya, ia belai lembut rambutnya. Ingin sekali belaian itu dapat menjatuhkan semua kenangan di kepala cucunya. “Nek, mana ketupatku?” Terdengar sebuah rengekan putus asa. “Lebarannya kan masih lama” Nenek tua itu mencoba berlari dari kejaran harap sang cucu yang mengejar tanpa ampun.

Kini ia tertunduk dalam. Jari-jarinya meremas ujung kaosnya sekuat ia menahan beban angan yang menghimpit dirinya. Ia mulai menangis tersengguk. Bibirnya meracau menyebut-nyebut penghuni potret dan ketupat.Remasan jarinya semakin menguat. Dan kini kaosnya mulai terlihat sobek. Tak pernah puas ia dengan sobekan itu karena sebetulnya waktu yang ingin ia sobek, dan kenangan yang hendak dihancurkan. Tubuhnya bergocang, racauannya mulai berubah menjadi pekikkan yang akan menyayat nurani siapapun yang mendengar. Nenek-cucu itu kini menangis bersama dalam sebuah rangkulan.

KIni tubuh itu kembali ke kamar. Tak tidur. Ia jepit kedua tangannya dengan sepasang pahanya sekuat mungkin. Kepalanya ia tenggelamkan dalam sela-sela tangannya, sambil bibirnya komat-kamit merapalkan ketupat. Dalam ruangan di antara kedua jepitan tangannya itu ia dapat sedikit memenjarakan angannya. Suara bibirnya yang hanya untuk telinganya sendiri dapat menenggelamkan dirinya jauh ke dalam penggalan waktu yang ia mau. Waktu yang sama sekali berbeda. Terdengar suara ketukan pintu. Ia kembali tersentak. Telinganya langsung menerawang ke sesuatu di balik pintu. Seberkas cahaya redup berkilat di matanya. Itulah cahaya api yang ia harap dapat membakar waktu dan kenangan. Ia kembali berlari dengan angannya. “Ketupat… kau kah itu?” 

***Lihat cerpen  serupa

Penulis: Insan Setia N

Lihat cerpen lain: 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar