Ikhwan ber-politik praktis?

Hal ini menimbulkan pro-kontra.

Pendapat yang pro: Sebagai ikhwan kita perintah oleh Pangersa Guru Agung dalam Tanbih untuk taat pada perintah negara juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Dgn kita menduduki kekuasaan di legislatif/eksekutif kita merealisasikan amanah Tanbih ini. Dgn "menjabat", upaya menciptakan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh Tanbih dapat dgn efektif diciptakan! Jadi dalam konteks ini kekuasaan penting demi menjalankan transformasi sosial.

Pendapat kontra: Dgn menjadi salik dalam Thoriqoh ini tujuan kita tiada lain adalah agar menjadi manusia yang diinginkan Allah--supaya kita dapat menemuiNya dan diterimaNya. Antara lain adalah-seperti salah satu sifat Rasul dan Mursyid-Tabligh, yang artinya menyampaikan risalah Illahi tentang kebenaran! nah, apabila kita sendiri yang ikut dalam putaran kekuasaan itu sendiri, lalu siapa yang akan mengatakan kebenaran di depan penguasa???Sedangkan tugas kita sebagai ikhwan adalah mengatakan kebenaran!

Kedua, memang satu-satunya cara menciptkan kebenaran dan keadilan harus melalui jalur politik (yang banyak wilayah abu-abunya sedikit bersihnya)? Kekuasaan kan hanyalah salah satu alat sosial! Banyak alat yang lain seperti: pendidikan, sosial, agama, bahkan keluarga?
Seperti dalam ushul fiqih: Menghindari mudharat lebih diutamakan sebelum mengambil manfaat. Dan madhorot dari kekuasaan itu bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk orang banyak. Iiiihh...

Jadi ikut yang mana???

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar