HARI BURUH:Merayakan Keadilan Persamaan Sosial

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 Mei, baru saja kita merayakan hari kaum buruh se-dunia. Gegap gempita kaum buruh menggema di setiap penjuru bumi. Hari simbolik “pembebasan” kaum buruh ini seolah membawa kita kembali pada suatu zaman di mana setiap buruh di dunia menjadi korban kebiadaban para pemilik modal yang “haus’ darah. 1 Mei kemarin, para buruh di dunia terlahir kembali sebagai “fitri”.

Hari buruh ini mengingatkan kita pada salah satu hadits Rasulullah Saw, yang menyinggung tentang buruh atau pekerja, yang mengatakan bahwa berilah upah pekerjamu sebelum keringat mengering dari tubuhnya (Redaksi bebas). Islam merupakan agama yang mengajarkan keadilan dan egalitarianime. Perintah mewujudkan keadilan merupakan salah satu kewajiban umat muslim, orang-orang yang berlaku adil dipuji oleh Allah sebagai salah satu dari karakter orang-orang bertakwa yang pantas mendiami surga.


Keadilan terbagi ke dalam beberapa kelompok--berdasarkan orientasinya--, diantaranya adalah: Adil kepada diri sendiri dan adil kepada diri orang lain. Adil kepada diri sendiri contohnya, membagi waktu secara proposional. Ada saatnya bekerja, dan ada saatnya istirahat atau rekreasi. Tidak menyedekahkan seluruh harta juga merupakan contoh lain dalam adil kategori ini, karena disamping kewajiban bersedekah, kita juga wajib memenuhi kebutuhan diri sendiri. Sedangkan memberikan upah tepat waktu dan layak merupakan salah satu manifestasi adil dalam kelompok ke dua ini.

Dahulu, akhir abad 19, para klas-pekerja Inggris “menyuarakan” kembali semangat hadits Nabi ini dengan jargon “UPAH SEHARI YANG LAYAK BAGI KERJA SEHARI YANG LAYAK”. Frederich Engels, seorang teoritikus ekonomi-politik yang handal dan “pembongkar” kapitalisme mengatakan bahwa jargon ini, telah berjasa sekali pada waktu kebangkitan Serikat-Serikat Sekerja setelah penolakan Undang-Undang Kombinasi yang jahat pada tahun 1824; ia bahkan berjasa lebih besar lagi pada masa gerakan Chartis yang jaya, ketika kaum pekerja Inggris berbaris di depan klas pekerja Eropa. (Pilihan Tulisan Karl Marx dan Frederich Engels).

Petanyaan selanjutnya bagi kita adalah: Apa esensi dari “upah sehari yang layak bagi kerja sehari yang layak” ini? Engels mengatakan, yang dimaksud dengan upah sehari kerja, dalam kondisi normal adalah jumlah yang diperlukan oleh pekerja untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya. Sedangkan kerja sehari yang layak adalah lamanya hari kerja dan intensitas kerja yang dicurahkan sehari penuh tanpa menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja pada hari berikutnya dan seterusnya. Singkatnya adalah pekerja mengadakan transaksi dengan pengusaha; pekerja memberikan tenaganya secara proporsional dan pengusaha memberikan upah yang mencukupi kebutuhan hidup para pekerja.

Sampai di sini, konsep ini terlihat adil. Tidak ada kesan kalau pengusaha mendzalimi sang pekerja. Tetapi kenyataanya, sering kali pekerja memberikan tenaga sebanyak dari yang dapat diberikannya; sedangkan pengusaha memberikan upah tak lebih dari kebutuhan hidup pekerja untuk dapat bekerja lagi di hari berikutnya (pas-pasan). Pekerja memberikan semaksimal itu dan pengusaha memberikan seminimal itu. Dalam tataran praktik, terlihat kalau konsep ini masih merugikan pekerja. Bila memang konsep ini terasa belum adil dan belum memihak pada kepentingan buruh, maka seharusnya pemerintah—dengan kebijakannya--yang harus bisa meluruskan atau bahkan menciptakan suatu konsep baru yang lebih mencerminkan keadilan dan lebih memihak kepentingan buruh

Di samping keadilan, Islam yang Suci juga mengajarkan kepada kita tentang egalitarianisme. Kalau dahulu para klas-pekerja atau buruh dianggap kelas rendahan dalam hirarki sosial, tetapi Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menghargai dan menghormati manusia berdasarkan kelas sosial atau status duniawi lainnya, termasuk gender (ayat 35 Surah Al-Ahzab). Allah hanya melihat ketakwaan hambanya. Semakin takwa seseorang, maka derajat itu semakin tinggi di hadapan Allah. Pun begitu juga di hadapan hukum Allah. Tidak peduli dari status sosial yang mana, gender jenis apa, buruh atau pengusaha, asalkan orang tersebut mengerjakan amal baik maka Allah akan mengganjarnya, begitu juga sebaliknya (ayat 7-8 Surah Al-Zalzalah).

Para pengusaha atau “bos” tidak pantas merasa superior terhadap para buruh atau karyawannya. Karena hakikatnya, para buruh itulah yang menjalankan roda perusahaan sehingga perusahaan dapat terus berproduksi dan beroperasi. Pada dasarnya, antara pengusaha atau pemilik modal dan buruh terkait dalam suatu hubungan simbiosis mutualisme. Pengusaha membutuhkan tenaga buruh untuk terus bekerja dan buruh juga membutuhkan pemilik modal untuk menggaji mereka. Adapun polarisasi dan spesilaisasi jenis pekerjaan—buruh mengerjakan pekerjaan berat dan kotor sedangkan pemilik modal hanya “memandori”—itu hanya dalam segi pekerjaan atau profesionalisme saja. Hirarki profesional ini tidak bisa di bawa ke dalam kehidupan. Karena pekerjaan bos lebih bersih dan bergengsi maka derajat ia lebih tinggi dan utama dibandingkan dengan buruh yang mengerjakan pekerjaan “hina”. Inilah sistem feodal yang masih banyak dianut masyarakat kita. Dan saya tegaskan, ini bukan Islami!

Pada hakikatnya, Islam turun melalui Rasululaah Saw adalah untuk membenahi sistem sosial, terutama waktu periode jahiliyah yang begitu semerawut: sistem hukum vandetta (balas dendam), marginalisasi—bahkan penghinaan—gender, rasisme, barbarisme, dan kesemerawutan tatanan sosial lainnya. Maka tidak aneh kalau Islam yang dikhotbahkan Nabi Muhammad Saw. bersifat liberasi atau pembebasan, seperti ajaran keadilan sosial dan egalitarianisme ini. Di mata Allah adalah sama, hanya ketakwaan yang membedakan derajat seseorang. Maka dari itu, keadilan dan persamaan terhadap kaum buruh adalah sesuatu yang tidak bisa kita tawar-tawar lagi. Saatnya para pemilik modal lebih melihat kaum buruh ini sebagai manusia utuh, bukan manusia mekanik yang penilaiannya terlalu sangat fungsional. Hargailah kaum buruh layaknya kita yang ingin selalu dihargai. Bukan hanya para pemilik modal, pemerintah pun harus lebih sensitif dan lebih memihak kepada kepentingan kaum buruh. Semua kebijakan pemerintah jangan sampai menindas kepentingan kaum buruh. Kaum buruh adalah “wong cilik”. Kebanyakan dari mereka adalah msikin—terutama buruh kecil. Dan kita harus selalu ingat bahwa Allah selalu mencintai mereka dan mengabulkan do’a-do’a nya. Maka, sayangilah kaum buruh, maka yang Di Atas akan mencintai kita. Perhatikanlah kesejahteraan dan kepentingan mereka, maka Allah pasti akan memperhatikan bangsa kita tercinta ini. Selamat hari buruh se-dunia. Jazakumullahu bagi kaum buruh Tanah Air.

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 0 Tanggapan... read them below or add one }

Posting Komentar