Benci

Ada kalanya rasa itu datang. Ia menghampiri dengan caranya sendiri yang tak terduga dan dengan jalan yang beragam. Terkadang ia mengintip, merayap perlahan sampai akhirnya menduduki. Pernah suatu waktu ia menyerbu, datang dengan sangat tak terduga. Ia juga begitu pintar mengenakan sesuatu. Terkadang bulan, lain kali matahari. Sampai akhirnya aku terkelabui dalam keadaan tersadarku. Aku siaga menentang bulan, me-tameng-i diri dari matahari, namun justru pelangilah yang datang.

Rasa itu bernama BENCI. Kali ia datang dan mendominasi diriku, aku hanya menjadi robot yang bertuhan remot. Hingga leburlah aku ke dalam kesadaran BENCI. Kala itu, aku menjadi cermin dirinya, ia menjadi cermin diriku. Tak ada lagi guna sapa “siapa kamu?” di hadapan cermin, karena yang kau tanya ialah yang bertanya. “Aku”ku sirna di hadapan BENCI seperti lenyapnya cahaya cermin yang berlaku tolol menantang cahaya mentari. Hingga peleburan itu sampai di muara “tak ada aku selain benci”, karena “tak ada benci selain aku.”

Aku benci semuanya. Aku benci terhadap kotak bodoh tak manusiawi yang semua orang menamai dirinya TV. Aku benci keluarga dan sanak familinya: Sinetron, Reality Show, Infotainment, dan terlebih sang jiwa di dalamnya: Pariwara. Untuk yang disebut belakangan, aku ingin mencium tangannya dan menggigit habis tangan anyirnya. Aku benci TV.

Aku benci postingan para fecbuker. “Alhamdulillah, akhirnya meeting tadi siang bersama Tn XXX berjalan lancar. Tnx God. Lov u all”; “Rencana besok pagi. Creambath, benerin hp ke roxy, bersiap deh ketemu c tayang..wkwkwkw”; “Aduh, beser niy..”; “Menatap rembulan sambil mengenang wajahmu. Di mana dirimu oh kasih?”; Coba tebak, siapa penemu kelereng?” Aku selalu berpikir, apa yang ada di benak kalian? Kalian di sana merasa jadi seleb, sedangkan aku di sini pingin muntah!

Aku benci teroris dan ormas “keras”. Aku muak mendengar retorikanya yang sok paling benar. Merasa paling tahu kehendak Tuhan. Teriakan Allohu Akbar dari mulut mereka terdengar seperti “serang dan bakar!”

Aku benci pejabat dan politikus. Bagiku mereka tak ubahnya para pelawak. Tukul yang cepak tiga kali lebih menarik daripada mereka yang necis. Ingin sekali aku memasukkan kursi ke mulut-mulutnya karena mereka tak akan puas bila hanya mendudukinya saja. Terlebih lima tahun saja. Aku benci pembentukkan citra diri mereka yang hanya menegaskan bahwa “kamilah si muanfik”. Satu jari tengahku untuk kalian yang mulia.

Aku benci pamong praja. Aku benci perusahaan finance/leasing. Aku benci Krisdayanti. Aku benci ustadz yang selalu memusyrikkan orang lain. Sekalian aku benci lembaganya. Aku benci ketua RW. Aku benci foto model. Aku benci juru moral. Aku benci orang modern. Aku benci PT Lapindo. Aku benci filsafat. Aku benci imam masjid. Aku benci Jakarta Under Cover. Aku benci McD. Aku benci mi instant. Aku benci…Aku benci…Benci aku…

Aku benci bukan karena mereka. Aku benci karena dirikulah si benci. Bila si aku bukanlah si benci, maka tak mungkin ada yang dibenci. Objek yang diamati bukanlah apa-apa, sampai ada sang pengamat yang memutuskan bahwa objek yang diamati tersebut "begini" atau "begitu".  Keputusan ada dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri. Hatilah yang menjadi motor gerak manusia. Bila ia baik, maka baiklah keseluruhannya. Pun sebaliknya. Maka dari itu, Sahabat semua…mari kita tutup pintu-pintu hati dari benci dengan kalimah Laa ilaaha illalah. 

***Tulisan ini oleh Insan Setia N 

Pembaca yang baik pasti SELALU meninggalkan Komentar

{ 4 Tanggapan... read them below or add one }

Rossbaru mengatakan...

Sebelum sampai ke paragraf terakhir, aku tadi sempat bingung mo ke mana muara tulisan ini, tapi setelah baca kalimat terakhir, baru lega rasanya

eNeS mengatakan...

Bisa wae c akang mah.
Tapi kebencian terhadap sesuatu juga penting karena dengan kebencian ini kita bisa menjauh dari hal-hal yg tidak disukai.
Eit, jangan salah sangka... yang harus dibenci bukan sosok manusianya tetapi perilaku dari manusia itu sendiri. Lain kitu lur?

Oema mengatakan...

benci karenaNya...cinta karenaNya pula, alasannya aja harus bner knpa bisa benci,hehe... tapi bukan benci sama orangnya...
itu persaan manusiawi, tapi kewajiban kita lah memperbaiki diri...

Anonim mengatakan...

Mulanya nyaris seperti perkataan Rassbaru. Tetapi ini tambahnya: membaca isinya. Di dalam diri manusia itu ada hitam juga ada putih. Ada sifat iblis ada pula sifat malaikat. Benci ada pula cinta. Nah, untuk membumihanguskan benci itu, ya itu tadi salah satunya barang kali, yakni: Laa Ilaha Illalah. He heh...

Posting Komentar