Pelepasan Ikan: Tolak Bala Ramah Lingkungan


Suatu hari seorang teman—bukan asli Sumedang—memintaku untuk menemaninya menemui seorang berilmu dan saleh yang dapat diminta bantuan dengan doanya. Ia merupakan pimpinan di salah satu cabang perusahaan yang bergerak di bidang finance, dan waktu itu kantor cabangnya tengah mengalami hambatan dalam produktivitas.

Mendapat ajakan itu, ingatanku langsung tertuju pada salah seorang guruku yang tinggal di Sumedang. Banyak orang yang sedang ditimpa “kesulitan” meminta amalan darinya, atau sekadar berkah doa. Tanpa pikir panjang, akupun langsung mengiyakan dan berangkatlah kami berdua menemui guru itu di kediamannya.

Kami disambut guru itu dengan sapaan ramah dan canda ringan. Tak ada sedikitpun

Ibadah Haji Tanpa Uang Seperakpun (Sebuah Tips)

Kawan-kawan, siapkanlah diri Anda untuk membaca dan menganga. Karena saat ini saya akan membuka sebuah tabir rahasia yang teramat besar. Namun rahasia dahsyat ini hanya bagi kawan-kawan yang bercita-cita melaksanakan rukun islam kelima, yaitu IBADAH HAJI. Yang tidak berminat silakan beranjak dari posting ini. Tulisan berikut akan mengetengahkan informasi "Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Uang Seperakpun" Baiklah, daripada kawan-kawan lebih lama bersuudzon pada saya (menganggap saya seorang marketing bullshit haus poin) kita langsung saja pada materi.

Namun sebelumnya saya akan mengingatkan kawan-kawan semua tentang salah satu prinsip dasar dalam Agama Islam, yaitu prinsip kesetaraan dan keadilan. Sebagai Agama yang rahmatan lil 'alamin, Islam tak pernah mewilah-wilah. Tak ada yang diistimewakan di atas yang lain. Kalau dalam bahasa sekarang mungkin disebut egaliter. Ya, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai egalitrianisme. Kalau kedudukan haji mabrur dan mabruroh hanya boleh dicicipi oleh orang-orang kaya saja, lalu bagaimana dengan nasib orang miskin?

Benci

Ada kalanya rasa itu datang. Ia menghampiri dengan caranya sendiri yang tak terduga dan dengan jalan yang beragam. Terkadang ia mengintip, merayap perlahan sampai akhirnya menduduki. Pernah suatu waktu ia menyerbu, datang dengan sangat tak terduga. Ia juga begitu pintar mengenakan sesuatu. Terkadang bulan, lain kali matahari. Sampai akhirnya aku terkelabui dalam keadaan tersadarku. Aku siaga menentang bulan, me-tameng-i diri dari matahari, namun justru pelangilah yang datang.

Rasa itu bernama BENCI. Kali ia datang dan mendominasi diriku, aku hanya menjadi robot yang bertuhan remot. Hingga leburlah aku ke dalam kesadaran BENCI. Kala itu, aku menjadi cermin dirinya, ia menjadi cermin diriku. Tak ada lagi guna sapa “siapa kamu?” di hadapan

Tipikal Ikhwan Manakah Anda?

Dengan tidak bermaksud menyederhanakan bahkan mendistorsi penghayatan seorang ikhwan terhadap tarekat kita, namun saya menemukan tiga tipikal umum ikhwan dalam menyikapi tarekatnya:

  1. Segolongan ikhwan yang memposisikan tarekat seperti kajian filsafat/pemikiran. Golongan ini berkonsen pada laku hidup dengan "agak" mengenyampingkan laku amaliyah. Karena bagi mereka laku amaliyah itu hanyalah sebatas riyadhoh atau latihan agar murid mencapai kesempurnaan akhlak dan iman. Mereka berfokus pada isi dengan sedikit mengabaikan kulit. Umumnya mereka lebih senang berdiskusi ttg 'cara/pandangan hidup' daripada melakukan amaliyah. Seakan-akan makrifat hanya dapat dicapai dengan pemikiran dan pemahaman yang benar.
  2. Segolongan ikhwan yang memposisikan tarekat seperti madzhab fiqh. Tarekat adalah amalan, dzikr tertentu. Central mereka adalah ibadah maghdoh/amaliyah.Ritual ya ritual. Titik. Bagi mereka tujuan amaliyah itu ya amaliyah!mereka senang sekali berdebat ttg masalah fiqh. Yang mereka fokuskan adalah argumen-argumen agama ttg dzikr, manakib, dll. Laku amaliyah lebih menonjol daripada laku hidup. Fiqh oriented
  3. Golongan jalur tengah. Mereka menganggap penting laku amaliyah dengan tidak mengabaikan laku hidup. Mereka sadar bahwa sikap/pemikiran/pandangan hidup yang benar dapat dicapai dengan istiqomah dalam ibadah. Jadi, laku amaliyah mereka terarah. Arahnya yaitu 'kebenaran hidup'.. Mereka dapat melihat harmonisasi antara laku amaliyah (dzikr, khotaman, manakiban, shalat,shalawat dll) dengan tanbih. Mereka berpikiran bahwa tarekat ya tarekat. Sama sekali bukan kelas filsafat yang mengandalkan pemikiran. Juga bukan sebuah mazhab fiqh yang fiqh oriented. Mereka mengambil kulit dan isi sekaligus!

Nah sekarang, anda termasuk gologan yang mana???

Ikhwan ber-politik praktis?

Hal ini menimbulkan pro-kontra.

Pendapat yang pro: Sebagai ikhwan kita perintah oleh Pangersa Guru Agung dalam Tanbih untuk taat pada perintah negara juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Dgn kita menduduki kekuasaan di legislatif/eksekutif kita merealisasikan amanah Tanbih ini. Dgn "menjabat", upaya menciptakan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh Tanbih dapat dgn efektif diciptakan! Jadi dalam konteks ini kekuasaan penting demi menjalankan transformasi sosial.

Pendapat kontra: Dgn menjadi salik dalam Thoriqoh ini tujuan kita tiada lain adalah agar

Klub Poligami Global Ikhwan; Satu Lagi Teror Dari Malaysia?



Tersebutlah seorang laki-laki warga Malaysia. Ia melancong ke Indonesia bukan sekadar menjadi turis semata. Berbeda dengan para pelancong lainnya yang menghabiskan waktu dengan beristirahat santai, ia bersusah payah merakit bom dan mengumpulkan pengikut. Saat turis lain berkeliling ria memanjakan mata, ia malah lari kabur-kaburan dari aparat Negara. Umumnya turis lain ketika pulang membawakan oleh-oleh cendera mata bagi keluarganya. sedangkan ia—lagi-lagi berbeda—menghadiahi keluarga dengan jasadnya sendiri. Laki-laki itu bernama Noordin M Top. Warga Malaysia.

Di Bandung, tepatnya di Kota Cimahi berdirilah sebuh klub atau perkumpulan. Layaknya

Komentar Atas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II


Akhirnya, setelah proses panjang dan menarik, karena media menyajikannya layaknya “reality show”, telah terbentuk juga Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dan telah disahkan. Tak lupa, ritual sumpah jabatan pun telah digelar. Seperti biasa, dengan menggunakan kata “Demi Allah”. Inilah susunan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Dengan formasi ini tentu saja tak semua pihak puas. Lebih tepatnya “terpuaskan”. Banyak di antara mereka yang pesimis dengan formasi kabinet ini. Lebih tepatnya pesimis akan intergritas dan kapasitas mereka sebagai individu.

Mereka yang pesimis ini memiliki asumsi bahwa dalam merumuskan formasi kabinetnya, SBY cenderung mengabaiakan profesionalitas. Malah sebaliknya, mengedepankan kepentingan politik (khususnya dukungan atas pemerintahnnya sendiri). Para menteri yang idealnya adalah orang-orang yang ahli di bidangnya atau pakar professional, ini malah berisi orang-orang “titipan” partai politik. Istilah apatisnya “Politik dagang daging”. “Presiden tersandera oleh partai politik.” Begitulah bahasa salah satu tokoh partai HANURA dalam acara Janji Wakil Rakyat di TV One.

Tapi para pendukung formasi kabinet ini pun ternyata memiliki argument, lebih jelasnya “kelitan”, bahwa menteri itu gak selalu harus profesional. Karena tugas menteri itu kan hanya sebagai manager, yang memenejemen. Kan dibawahnya punya dirjen-dirjen yang telah biasa bekerja…Justru menteri-menteri itu harus memiliki keberpihakan politik dengan presiden, demi berjalannya program-program pemerintah.

Didengar, dipikirkan, dan akhirnya dihayati, memang ada benarnya juga dalih yang diberikan tokoh-tokoh partai koalisi itu. Ya terlepas bahwa argument itu muncul karena didasarkan bahwa kader-kader partainya terpilih duduk di kabinet. Kalu gak kepilih mah ya pasti beda cerita deh…Tapi kan kita gak boleh suudzon ya. Nanti dosa lho!

Yang paling saya setuju karena dalih mereka itu memiliki muatan local wisdom atau kearifan lokal. Argumen mereka itu bersumber dan sejalan dengan pikiran orang-orang tua dulu yang masih belum melek pendidikan. “Ngapain ndo, kok sekolah pake tinggi-tinggi segala. Presiden sudah ada. Wakilnya juga ada. Menteri sudah banyak, yang mau juga gak sedikit”

Nah mungkin inilah landasan berpikir mereka, dan mereka juga memang para pemegang prinsip: “Memelihara tradisi lama yang baik” Karena mereka itu alumni-alumni kampus yang pinter, jadi rumusan “dulu” itu pun mengalami perkembangan agar sejalan dengan alam pikiran modern: “Dalam urusan pemerintahan, profesionalitas dan kapasitas itu tak terlalu penting. Yang lebih penting adalah dukungan politik. Pokoknya Politik…Hidup Politik…”

Apabila kita amati, mereka memberikan satu pendidikan moral bagi kita yang tentu saja bermanfaat bagi kehidupan kita: “Ngapain ndo, kok sekolah pake tinggi-tinggi segala. Buang-buang waktu dan biaya saja. Sudah, mending sekarang kamu berteman dengan para birokrat, jalin hubungan dengan orang-orang penting, pererat siltaurahim dengan para tokoh partai politik. Dan jangan lupa, jadilah kamu tokoh partai. Sekarang professionalitas gak penting. Yang penting bagi kamu sekarang adalah dukungan partai!” 

***Gambar dari http://www.indonesia-monitor.com/ 

Kita Tersenyum Yuk…

Kita semua sebagai mahluk sosial tentu saja mempunyai banyak keinginan. Dan memang dalam tataran tertentu keinginan-keinginan tersebut merupakan kebutuhan kita untuk dapat terus bertahan di lingkungan social kita.

Sebagai mahluk social yang tak pernah henti berinteraksi dengan anggota social lainnya kita semua menginginkan pengakuan atau eksis. Kita selalu ingin keberadaan kita di akui oleh orang lain. Begitu juga prestise. Siapa yang tak menginginkan prestise? Di alam modern yang struktur sosialnya demikian kompleks, meniscayakan kita semua untuk mendambakan prestise di masyarakat. Bahkan orang rela untuk tidak dibayar dalam bekerja (sukwan dinas) hanya untuk bisa mengenakan seragam pegawai negeri sipil. Itu semua didorong oleh keinginan akan prestise. Pun sama halnya dengan aktualisasi, popularitas,dan kitapun dapat membuat daftar yang panjang akan semua kebutuhan-kebutuhan ini.

Tapi terkadang kita bertanya, apakah memang ini yang benar-benar penting dalam kehidupan kita? Saya katakan itu memang penting untuk kita dapatkan. Tetapi, ada satu hal

Mbah Surip dan Ibrahim

Mbah Surip dan Ibrahim. Mereka baru saja meninggal. Mereka meninggalkan jejak. Mereka dikenang. Mereka berbeda tetapi mungkin sama.

Mbah Surip memegang gitar, Ibrahim membawa bom rakitan. Mbah Surip meninggalkan pesan cinta dengan jargon “I love you full”nya, Ibrahim—yang semula disangka Nurdin M Top—meninggalkan suara kebencian dengan teriak “ledakkan!”nya. Mbah Surip mencipta “tak gendong”, dan Ibrahim merakit bahan peledak. Mbah Surip membuat tertawa, sedangkan Ibrahim memunculkan tangisan dan menggores setiap hati. Mbah Surip menawarkan damai, Ibrahim memaksa untuk berperang. Mbah Surip dikenang sebagai musisi sederhana dengan lagu rege ceria, Ibrahim kita kenang sebagai perawat bunga yang menebar terror.


Khidmat Ilmiyah KH. Tohir Abdul Kohir ra, Sumedang 18-10-2009

Manakib kali ini diselenggarakan pada Minggu pagi tanggal 18 Oktober 2009 jam 08.00 WIB di Sumedang, tepatnya di leleson Bpk. Oman dalam rangka walimatul safar ibadah haji. Khidmat ilmiah oleh KH. Tohir Abdul Kohir ra (Ajengan Ohir) Wakil Talqin Abah Anom (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin) Sumedang.

Dalam thausiyahnya, Beliau ra menegaskan bahwa substansi semua ritus dalam ibadah haji adalah menegakkan dzikrulloh. Tidak hanya ibadah haji. Namun semua laku ibadah dalam agama Islam memiliki substansi dzikrullloh. Alhamdulillah, Pangersa Guru Agung qsa telah memberikan alatnya bagi kita semua.

Ajengan Ohir ra juga mengingatkan para ikhwan dan jamaah yang hadir untuk senantiasa sadar, eling, bahwa di atas keinginan kita sebagai manusia, ada Kehendak Yang Maha Berkehendak. Selain rencana kita, ada Qada dan Qadar dari Allah Yang Maha Menentukan. Cita-cita kita tak selamanya akan selalu terwujud. Maka dengan kesadaran akan adanya

Percakapan

Sayup-sayup suara alarm dari Hand Phoneku merambat melalui udara. Tak begitu tergesa, tapi akhirnya ia tertambat juga di kedua telingaku yang belum begitu siap untuk terjaga. Perlahan tapi pasti, suara dering alarm itu semakin tinggi melengking, terdengar kuno dan putus asa hampir menyerupai suara lokomotif kereta api tua yang sarat akan cerita mistis—bukan dalam konsep religious study.

Tanpa kesadaran penuh, aku memaksakan diri menurunkan kedua kakiku turun dari tempat tidurku dan tanpa perlu melangkah lagi tanganku bisa menggapai Hand Phone yang tergeletak bebas di rak bukuku yang menempel di tembok sisi kanan kamar.

Setelah itu berhasil, aku pun menjatuhkan tubuhku di ranjang, memasrahkan seluruh tubuh dan beban kewajiban ini di atas sebuah kasur busa yang sama sekali tak pernah mempermasalahkanku, apalagi komplain terhadapku dan duniaku. Ia selalu menerima aku apa adanya, tak terkecuali. Walau terkadang ia juga menghukumku dengan membuat tubuhku agak pegal-pegal.

Dan akupun kembali ke posisi semula, tidur, setelah sebelumnya mata lelahku melihat angka di layar Hand Phoneku: 05.10 dan seperti biasa tanganku refleks mematikan nyala alarm..

Dalam tidurku yang sudah tidak pulas lagi, muncul gambar-gambar yang me-reply peristiwa malam tadi sebelum aku tertidur. Dari teropong mimpiku, dapat kulihat mimik muka temanku yang menyiratkan kemalasan dan tanpa apresiasi menghadap ke arahku yang sedang berbicara meluap-luap bergairah dengan air muka penuh semangat.

“Sekarang rasanya aku mulai memahami bahwa perintah untuk beragama secara kaffah itu yaitu terintegrasinya antara: syariat, hakikat, dan makrifat. Kita tidak bisa menjalankan agama secara parsial.” Aku mulai menghela nafas di tengah pikiranku yang sedang merangkai kalimat agar terdengar efektif namun dalam dan esoteris.

Temanku menghisap kembali rokoknya yang terjepit antara telunjuk dan jari tengahnya sambil tangan kirinya yang bebas, memelintir ujung-ujung rambutnya. Sebuah respon gesture yang akan membuat seorang orator politik manapun menahan kata-katanya dan mulai mengalihkan pembicaraanya ke topik lain namun masih sesuai dengan agenda partainya dan berharap topik ini dapat memancing antusias audiensnya.

“Sebuah kesia-siaan apabila kita hanya berdiam diri di syariat tanpa beranjak menuju hakikat.” Aku tak mempedulikan respon lawan bicaraku.

“Bayangkan, betapa tanpa artinya orang berbicara dengan bahasa yang tanpa ia mengerti. Tak jauh beda dengan orang yang berjalan jauh dengan tertatih tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Kedua orang ini sama-sama tak dapat memaknai!”

Temanku sedikit mengangguk dengan gambar gairah samar-samar terlukis di wajahnya, seperti awan mendung yang mulai bergerak berpencar, tak lagi egois menghalangi cahaya sang surya yang selalu ingin menyinari desaku.

Dengan sedikit gerakan, aku merubah posisi dudukku sebagai simbol bahwa aku lebih serius dengan apa yang akan kukatakan. “Para pecinta hakikat sudah tidak banyak mempermasalahkan lagi praktik ritual yang sering menjadi bahan perdebatan sengit para kaum syariat. Mereka mulai menemukan setitik cahaya di tengah belantara gulita. Mereka mulai mengetahui arti ungkapan, ‘Lilinnya boleh beda tapi tetap cahanya sama’. Atau ungkapan lain yang lebih low profile, ‘Banyak jalan menuju Roma’”

Aku menatap sosok di depanku dengan sorot mata yang lebih serius lagi serasa ingin mendoktrin pikiran temanku tanpa menggunakan kata-kata. “Yang mereka ingin capai, dan satu-satunya motivasi mereka beribadah adalah…”Aku memberi jeda pada kata-kataku sendiri dan kembali berujar dengan memberi penekanan khusus: “Cinta”. “Saat kita ibadah tapi tak ada ikhlas dan rasa cinta, sebenarnya kita tak sedang beribadah namun berkhayal sedang beribadah. Untuk apa kita berupacara tapi tak ada rasa khidmat dan cinta pada tanah air? Namun duduk-duduk di taman, atau sekadar mendengarkan alunan musik sambil santai di rumah tapi sang hati sedang diliputi rasa kasmaran kepada Tuhan, atau seidaknya dapat mengingatNya, itu adalah ibadah. Harganya jauh melebihi daripada ritual yang tidak hadir cinta di kalbunya”.

“Substansialis…kejawen mungkin? Temanku bertanya dengan setengah menyelidik.

“Maksudnya?” Pancingku agar temanku lebih beragumen, dan yang pasti agar ia lebih benar-benar terlibat dalam diskusi ini.

“Yang aku tahu sih katanya ada aliran yang hanya mencari substansi dari ajaran agama dan kurang peduli pada praktik formal karena mereka anggap itu adalah cangkang sedangkan yang dibutuhkan adalah isi. Dan kalau tidak salah sih--ini juga cuma kata temanku—aliran kejawen seperti itu. Temanku pernah berkata bahwa shalat mereka tidak di atas sajadah dan berpraktik seperti umumnya, karena bagi mereka hidup baik tanpa melakukan kejahatan (fahsya dan munkar) itu adalah shalat yang sebenarnya.” Walaupun bernada di-netral-kan tapi aku tahu kalau teman diskusiku kali ini tidak setuju dengan pandangan seperti ini.

“Mmmh…ya, aku tahu sih, walaupun aku belum setuju kalau semua kejawen seperti itu. Bahkan sebenarnya aku ragu kalau penjelasannya hanya sebatas itu.”

“Aku juga ga tau banyak sih” keluh temanku.

Suasana hening. Yang ada hanya sayup-sayup suara Dewa 19 yang mengalun dari komputer 























***Cerpen ini merupakan adaptasi dari kisah nyata saya sendiri

Penulis: Insan Setia N

Lihat cerpen lain: 

 

Ingin Mendapat Hikmah?

Hikmah adalah harta umat Islam yang hilang. Kita dianjurkan mencari hikmah oleh Rasul yang mulia, Muhammad saw. Kita dianjurkan pula untuk mengambil hikmah dari manapun. Begitu pentingnya anjuran untuk mencari hikmah, sampai-sampai Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Jikalau hikmah itu ada di dalam gunung, niscaya akan aku goncangkan gunung itu!"

Bagaimana caranya untuk mendapat hikmah? Mari kita buka al-Qur'an. QS al-Baqarah ayat 261 sampai dengan ayat 268 berbicara tentang infak dan sedekah.Pada ayat 269 tiba-tiba

Relativitas Tafsir

Dalam memahami Al-Quran, penguasaan gramatika dan gaya bahasa arab sangat diperlukan sebab tanpa keduanya, penafsir akan kehilangan peta dan arah. Tetapi perlu ditegaskan disini bahwa sekalipun Al-Quran itu adalah wahyu, karena bahasa Arab yang dijadikan wahananya masuk kategori kebudayaan yang relative, dalam artian bahasa yang digunakan Al-Quran yaitu bahasa Arab tetap tunduk dan terikat pada konteks budaya, histories, kultur, sosiologis dan unsure-unsur lain yang notabene kesemuanya itu merupakan sesuatu yang sangat relative. Maka dinamika perdebatan dan penafsiran seputar doktrin Al-Quran tak pernah selesai. Makna dan pesan yang dikandung Al-Quran tidak akan terungkap seara tuntas dan bisa dipahami oleh pembacanya meskipun ahli bahasa. Al-Quran selalu melahirkan multimakna, karena dari segi bahasa memungkinkan, sehingga ada beragam mazhab atau aliran pemikiran Islam, baik dalam bidang hukum, teologoi, filsafat, tasawuf maupun politik. Berbagai isu yang diperselisihkan oleh para ulama tidak mungkin diselesaikan dengan cara penyeragaman makna. Hal ini karena teks Al-Quran maupun Hadis membuka diri untuk ditafsirkan, sementara sekarang kita tidak memiliki juru penafsir yang mempunyai otoritas mutlak sejak wafatnya Muhammad Rasulullah SAW.

Uraian singkat diatas menjelaskan pada kita bahwa penafsiran yang selama ini kita lakukan terhadap teks AL-Quran tidak bersifat absolut tetapi bersifat relative. Bagaimanapun juga

Penindakan Ormas “Keras”

Keinginan untuk membubarkan ormas-ormas yang kerap kali melakukan pelanggaran pidana seperti kekerasan dan aksi sweeping ilegal kini kian semakin populer di beberapa kalangan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat dan agama, aktrivis, bahkan salah satu yayasan pun, seperti halnya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia menginginkan aparat untuk bertindak tegas dan cepat terhadap kasus ini. Tidak tanggung-tangggung, tokoh agama dan budaya selevel Gus Dur pun ikut “memprovokasi” ide ini.

Seperti kata pepatah “takkan ada asap kalau tak ada api”. Tentu saja munculnya ide pembubaran ormas-ormas ini juga pasti mempunyai sebab musabab. Mereka yang menginginkan pembubaran ormas–ormas itu tentu saja mempunyai alasan atau ration de etrat terhadap ide-idenya tersebut. Dan salah satu pendapat yag sering kali mereka utarakan

Sosok Diriku Sekarang

Kutatap aneh wajahku yang terpampang samar dalam cermin bening bangsa

Kutilik benar sosokku yang kini terlihat semakin asing dari penggalan memori

Lama kuterdiam dalam sejuta keheningan

Lama kutertegun dalam kebisuan yang begitu nyata


Kucari sepasang mata bening yang darinya selalu terpancar tatapan kedamaian

Skeptis

Ku jejaki tanah bumi ini yang telah usang dimakan waktu

Terik matahari bercampur asap menghilangkan semua mimpi

Ku ayunkan kaki seirama dengan asa membuat diriku lebih terbakar

Deru dan debu kota serasa menjadi instrument lagu nafsu dan kekesalan


Semua nafsu terkamuflase cinta

Harap

Aku masih tetap di sini

Duduk termenung menganadaikan bintang-bintang harapan

Bersama waktu yang membeku

Bersama hari yang telah lama mati


Kutersadar diriku telah jauh terbawa kereta kematian

Di jalan-jalan curam berlorong penuh aroma keputusasaan

Rindu

Saat rindu menyergap, cinta menyesakkan, semuanya terlihat gelap, gulita.

Hanya kesadaran tentangmu yang menguasai seluruh tingkatan alam.

Tak terasa hati berdarah, perih yang terasa.

Nadi berhenti berdenyut, jantung perlahan mulai tak berdetak.

Hanya namamu yang bergerak menguasai setiap bagian relung hati.

Oh kasih, anggur apa yang kau tenggakkan untukku? Sehingga aku mabuk kepayang tak berdaya di hadapan singgasanamu yang teramat megah.

Makna Simbloik 17-8-45

>> 17: Adalah suatu angka yang harus dijaga, dipelihara dan diperhatikan oleh semua pemeluk agama Islam. Ia adalah angka keramat. Apabila ia berdiri maka kokohlah bangunan agama, karena ia merupakan pondasi. Ialah pembeda antara muslim dengan kafir. Angka ini haruslah bulat, tak boleh kurang ataupun lebih. Ia adalah jumlah rakaan shalat wajib dalam satu hari satu malam.

17 terdiri dari dua angka yang saling melengkapi. Ia tak boleh bercerai karena apabila angka yang satu dengan yang lainnya berdiri sendiri, maka hilanglah makna “tujuh belas”. Yang ada hanya angka satu, dan tujuh. Satu melengkapi yang tujuh, begitu juga sebaliknya.

1 menunjuk pada Allah yang mustahil dua atau nol. Satu adalah wajib bagiNya. Ia lah Yang Maha Ada dan Berdiri Sendiri.

Sedangkan 7 merupakan simbol dari makhluknya, manusia. Manusia memiliki latifah yang dalam bahasa lokalnya “lelembutan”. Para ulama membagi lagi kesepuluh latifah ini menjadi dua golongan atau kelompok, yang disebut dengan Alamul Amri dan Alamul Kholi. Alamul Amri terdiri dari lima latifah, yaitu : Latifatul Qolbi, Latiatul Ruh, Latifatul Sirri, Latifatul Khofi, dan Latifatul Akhfa. Sedangkan kelompok kedua yaitu Alamul Kholi terdiri dari lima latifah, yaitu : Air, Tanah, Api, Angin, dan Latifatul Nafsi. Anasir yang empat (air, tanah, api, dan angin) berkumpul bersama menjadi satu latifah yang disebut dengan Latifatul Qolab. Kalau diakumulasikan, latifah yang ada dalam diri manusia itu berjumlah 7 latifah.

Seperti halnya 7 yang membutuhkan 1 agar bulat menjadi 17, maka manusiapun sempurna hanya tatkala ia memiliki ketersambungan dengan Yang Maha Satu. Agar memiliki ketersambungan itu maka yang tujuh harus diisi oleh yang Satu. Karena itulah kita melakukan dzikir zahar dan khofi—sesuai dengan petunjuk Guru Agung, qsa--yang fungsinya mengisi tujuh latifah kita dengan dzikrulloh.

>> 8 merupakan symbol dari keseimbangan, balancing. Lihat saja bentuk angkanya yang strukturnya seimbang. Bagian bawah dan atas berstruktur sama.

Jumlah waktu sehari semalam yang kita miliki adalah 24 jam. 24 dibagi 3 sama dengan 8. Imam Al-Ghazali, ra mengatakan bahwa seyogyanya manusia membagi waktunya menjadi 3 bagian. 8 jam untuk beribadah, 8 jam kedua untuk bekerja, dan 8 jam terakhir digunanakan untuk istirahat. Apabila pola hidup kita seimbang, maka seimbang pulalah diri kita karena semua kebutuhan diri kita, baik itu materil juga mental-spiritual, dapat terpenuhi secara proporsional.

>> Angka 45 terdiri dari dua angka: 4 dan 5.

Iman, Islam, dan Ikhsan hanya dapat sempurna apabila telah terpenuhinya yang 4, yaitu; Syariat, Thariqat, Hakikat, dan berakhir di puncak Makrifat. Inilah yang disebut kaffah. Beragamalah secara kaffah yaitu terintegrasinya yang 4 ini dalam diri seorang mukmin. Islam kaffah bukanlah berarti memformalisasikan syariat Islam dalam sebuah Negara atau berkibarnya bendera islam. Karena syariat itu berdiri bukanlah dalam sebuah bangsa tetapi dalam sikap dan perlaku umat muslim. Dan tempat tertancap dan berkibarnya bendera Laa Ilaaha Illalaah hanya dalam hati seorang mukmin yang ditancapkan oleh seorang ahli dzikir. Ia lah Syekh Mursyid Sang Pewaris Nabi.

Sedangkan 5 merupakan jumlah pondasi dasar agama Islam. Dengan terpenuhinya yang 5 ini maka kuatlah pondasi agama kita. Karena hanya dengan kekuatan pondasi ini lah bangunan iman dan ikhsan yang agung dapat tewujud.

Ia lah rukun Islam.

Latifah

Para ulama tassawuf menyatakan bahwa diri manusia itu disusun oleh latifah-latifah yang berjumlah sepuluh. Para ulama membagi lagi kesepuluh latifah ini menjadi dua golongan atau kelompok, yang disebut dengan Alamul Amri dan Alamul Kholi.

Alamul Amri terdiri dari lima latifah, yaitu : Latifatul Qolbi, Latiatul Ruh, Latifatul Sirri, Latifatul Khofi, dan Latifatul Akhfa. Sedangkan kelompok kedua yaitu Alamul Kholi terdiri dari lima latifah, yaitu : Air, Tanah, Api, Angin, dan Latifatul Nafsi. Anasir yang empat (air, tanah, api, dan angin) berkumpul bersama menjadi satu latifah yang disebut dengan Latifatul Qolab. Kalau diakumulasikan, latifah yang ada dalam tubuh manusia itu berjumlah 7 latifah, yaitu Alamul Amri, Latifatul Qolab, dan Latifatul Nafsi.

Menjadi Zahid

Dalam perjalanan seorang salik meretas jalan menuju ma’rifat Allah, zuhud merupakan suatu sikap yang niscaya. Sikap zuhud merupakan terminal kedua setelah taubat yang harus ditempati oleh seorang pencari Tuhan sebelum ia melanjutkan perjalanan atau suluknya ke maqam atau kelas yang lebih tinggi. Lalu, apakah arti zuhud itu?

Ali bin Abi Thalib k.w, yang oleh Rasulullah Saw dijuluki ”pintu kota ilmu” itu menjelaskan bahwa ”Zuhud tersimpul dalam dua kalimat dalam Al-Quran, supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap

Menggali Pesan Puasa

Saking betahnya kita tinggal dan bermain-main di dunia yang fana ini, tak terasa beberapa mingguan lagi kita semua akan sampai di bulan ramadhan, bulan suci bagi umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan ini setiap muslim--yang telah memenuhi kriteria khusus menurut fikih—melaksanakan salah satu ritual wajib dalam Islam, yaitu puasa. Di bulan ini pula Allah menjanjikan maghfirah yang besar dan bonus-bonus pahala lain yang sangat menggirukan, mulai dari dilipat gandakannya pahala dari berbagai amalan sampai dua puluh tujuh derajat, dibukakannya semua pintu surga dan ditutup semua pintu neraka, dan reward lain yang telah Allah janjikan. Hampir semua umat muslim pun menyambutnya dengan senang dan menjalankan ritual tahunan tersebut sambil berharap Allah membalas semua amalannya dengan pahala yang tinggi, bahkan surga secara langsung.

Janji-janji Allah akan pahala dan keutamaan ibadah puasa di bulan Rmadhan itu sebagai motivator untuk semua muslim agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadahnya. Tapi rewards Allah yang sangat menggiurkan itu jangan sampai menjebak kita pada konsep ibadah pahala oriented. Sayyidina Ali kw menyebut orang-orang yang beribadah dengan konsep

Islam Sebagai Agama Pembebasan Wanita

Relasi gender dalam pandangan Islam memang sesuatu hal yang sangat menarik dan selalu menjadi bahan kajian dan perdebatan para cendikiawan atau pemikir Islam dari zaman cendikiawan klasik sampai cendikiawan kontemporer. Banyak sekali tanggapan terhadap eksistensi wanita dalam kapasitasnya di ruang publik baik itu tanggapan yang pro maupun tanggapan yang kontra atau tidak setuju. Permasalahan ini menjadi tambah lebih runyam tatkala kedua kubu itu menyitir dalil – dalil agama sebagai landasan tekstual argumentasinya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasannya Islam lahir dan tumbuh berkenbang dalam kultur Arab yang misoginis dan terkenal suka membunuh anak – anak perempuan karena mereka anggap anak perempuan itu adalah kehinaan, juga menempatkan wanita sebagai warga negara nomor dua, hal ini terlihat dari masyarakat Arab waktu itu tidak mengenal konsep waris dan saksi bagi perempuan. Namun setelah turunnya Islam yang

26/10/09-20:32

Selama ini banyak hal-hal yang kita anggap perlu. Mulai dari kecukupan materi sampai kebutuhuan religi. Namun seringkali kita melupakan hal dasar, substansial. Dan pemahaman yang benar akan sessuatu hal sesungguhnya itulah yang benar-benar kita butuhkan...

Khidmat ilmiyah Ajengan Jalaludin Tasik dan Ajengan Maman Majalengka, Sumedang 18-10-2009

Manaqib kali ini diselenggarakan pada malam Senin tanggal 18 Oktober 2009 bada Isya di Sumedang, tepatnya di leleson Ibu Hj. Dahman. Manaqib ini diseleggarakan secara rutin satu bulan sekali.

Dalam kesempatan kali ini, Ajengan Jalaludin salah satu sesepuh Khotaman/Manakiban dari Tasik mengajak ikhwan semua untuk senantiasa meningkatkan amal shaleh. Terlebih dalam bulan Syawal. Menurut Baliau, Syawal sendiri mempunyai arti “meningkat”. Artinya, amaliyah dalam bulan ini hendaknya lebih meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas daripada bulan kemarin, Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan latihan, dan panen amalnya—seharusnya—di bulan Syawal ini. Bukan malah sebaliknya.

Beliau juga menerangkan salah satu keterangan agama bahwa seluruh manusia adalah hina di hadapan Hadirat Allah swt. Terkecuali ia yang menyambungkan, menjaga, memelihara

Lanjutkan!!!

Saat malam datang menyelimuti bumi dengan gelap, teruskan langkahmu dengan mengalihkan fungsi tanganmu menjadi mata yang memandu.

Saat sepasang kakimu terikat oleh belenggu, lanjutkan gerak tubuhmu tanpa keluh karena kau masih bisa beringsut.

Saat bibirmu tengah di balut solasi, teruslah berorasi karena tanganmu masih bisa mengutarakan idemu dengan gerak isyarat dan aksra.

UKHUWAH UNIVERSAL

Hampir dalam setiap kesempatan – kesempatan dakwah baik itu pada saat khutbah jum’at atau acara – acara keagamaan yang lainnya sering sekali kita mendengar bahkan sampai bosan, para pembicara atau ustadz menyampaikan materi tentang Ukhuwah Islamiyah. Semakin bosan karena para pembicara itu menyitir dalil – dalil yang sama dan sangat familiar dalam konsep dan kemasan yang itu – itu juga.

Ukhuwah Islamiyah adalah persatuan dan kesatuannya seluruh umat muslim dengan tidak memandang perbedaan – perbedaan mazhab pemikiran, organisasi, partai politik, suku bangsa dan Negara serta perbedaan – perbedaan lain yang dapat memicu perpecahan dalam Islam atau komunitas muslim dalam artian yang lebih sempit. Konsep Ukhuwah Islamiyah ini merupakan konsep persatuan yang sangat ideal , bagaimana tidak, masing – masing individu secara ikhlas sudah tidak melihat dan mempersoalkan lagi semua pebedaan – perbedaan yang memang merupakan suatu realitas demi persatuan dan kesatuan seluruh umat muslim

Ibadah : Kualitas Niat Seorang Arif dan Bukan Arif

“Hidup merupakan perjalanan panjang menuju Tuhan.” Kalimat tersebut ditulis tebal dan besar oleh temanku, di halaman sampul salah satu buku miliknya yang berjudul “Menafsirkan Kehendak Tuhan” karya Komarudin Hidayat. Saya tak tahu pasti siapa “pencipta” ungkapan itu, entah temanku sendiri atau orang lain. Tapi yang pasti, ungkapan tersebut merupakan cerminan dari hasil kontemplasinya yang cukup mendalam mengenai “Tuhan”.

Dalam Al-Quran tercatat pengalaman ruhaniah Nabi Ibrahim dalam menemukan Tuhan. Dalam pencariannya terhadap Realitas Runggal ini, nabi Ibrahim tidak segan-segannya menggunakan konsep trial and error-kebebasan berpikr. Matahari, gunung, bintang, dan bulan pernah ia sangka sebagai “Tuhan”, sampai akhir pergulatan pencariannya tiba kepada Allah, Tuhan Semesta Alam yang menciptakan tuhan-tuhan pendahulunya itu. Lalu muncullah ajaran tauhidisme nya, yang lebih dikenal dengan monoteisme.

Muitara Tak Berbatas

Ku coba rasakan diriMu

Kau menyentuhku

Ku coba tuk menatapMu

Kau mengenalku

Ku belajar berjalan ke arahMu

Kau bergesa memelukku

Ku berusaha bersamaMu

Kau telah hadir dalam kumuh rumahku

Sosok Diriku Sekarang

Kutatap aneh wajahku yang terpampang samar dalam cermin bening bangsa

Kutilik benar sosokku yang kini terlihat semakin asing dari penggalan memori

Lama kuterdiam dalam sejuta keheningan

Lama kutertegun dalam kebisuan yang begitu nyata

Ketupat dan Penghuni Potret

Tubuh di lantai itu tiba-tiba tersentak. Secepat kilat matanya menyapu seluruh ruangan kamar, secepat hatinya yang terbang mengejar kenangan. Ia terbangun. Bukan malaikat yang membangunkannya kembali. Tetapi ketupat. Tak perlu menunggu kesadaran kembali utuh dan pulih, atau sekadar otot siap menangkap instrukti otak. Ia langsung beranjak merobek waktu.

Di luar, didapati bapaknya sedang duduk termenung menggenggam sebuah potret. Penghuni potret telah ia lupakan, karena hanya ketupat yang teringat. “Pak, mana ketupatku?” Ia bertanya atau menuding. Bapaknya tak menjawab, hanya diam. Dipandangi anak semata wayangnya dengan pandangan penuh penjelasan. Ada bekas sayatan sembilu tergambar jelas di wajahnya. Begitu kuat matanya menahan awan hitam yang hendak mencurahkan hujan. “Pak, mana ketupatku?” Kali ini mata itu hampir rapuh. Tanpa sadar, setetes embun bening tak kuasa ia tahan. Ia lolos di sudut matanya, jatuh terjermbab di pipinya yang terlihat lebih tua. Bapak itu menunduk, menguburkan semua lukanya jauh ke dalam sanubarinya.


Rel Kereta

Sengatan matahari yang terasa begitu panas akibat bolongnya lapisan ozon yang merupakan efek dari pemanasan global tak menyurutkan langkah kakiku yang mengayun dengan tergesa. Pikiranku terasa macet untuk berpikir rasional. Satu-satunya yang hadir dan memenuhi benak hanyalah rel kereta, yang merupakan obsesiku selama tiga bulanan terakhir.

Rel kereta seakan menjadi cita-cita terbesarku,bahkan mengalahkan mimpi menjadi Bono U2. Melampaui itu, ia telah menyurup dalam jiwa sekaligus menempati posisi sentral dalam otakku. Tak jarang bayang-bayang rel kereta masuk dalam mimpi tidurku dan kumanfaatkan dengan mencoba berbagai eksperimen. Mulai dari duduk santai di ujungnya, tidur terlentang di atasnya, sampai eksperimen terekstrimpun aku coba, yaitu berguling-guling menyusuri sepanjang rel sampai titik terjauh hingga aku terbangun tidur.


HARI BURUH:Merayakan Keadilan Persamaan Sosial

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 Mei, baru saja kita merayakan hari kaum buruh se-dunia. Gegap gempita kaum buruh menggema di setiap penjuru bumi. Hari simbolik “pembebasan” kaum buruh ini seolah membawa kita kembali pada suatu zaman di mana setiap buruh di dunia menjadi korban kebiadaban para pemilik modal yang “haus’ darah. 1 Mei kemarin, para buruh di dunia terlahir kembali sebagai “fitri”.

Hari buruh ini mengingatkan kita pada salah satu hadits Rasulullah Saw, yang menyinggung tentang buruh atau pekerja, yang mengatakan bahwa berilah upah pekerjamu sebelum keringat mengering dari tubuhnya (Redaksi bebas). Islam merupakan agama yang mengajarkan keadilan dan egalitarianime. Perintah mewujudkan keadilan merupakan salah satu kewajiban umat muslim, orang-orang yang berlaku adil dipuji oleh Allah sebagai salah satu dari karakter orang-orang bertakwa yang pantas mendiami surga.


Ibadah

Seluruh tanah adalah masjid

Semua arah adalah kiblat

Setiap waktu adalah shalat

Setiap hembusan nafas adalah dzikir

Setiap bulan adalah Ramadhan

Setiap malam adalah Laitul Qadar

Dan setiap hari adalah mati

30/10/2009;20.30

Seringkali kita terlalu terfokus pada penegakkan KEBENARAN hingga akhirnya meupakan perwujudan KEBIJAKAN. Maka lihatlah kita berperang dalam mewujudkan KEBENARAN versi masing dan menistakan KEBAJIKAN yang telah kita sepakati bersama...

TANBIH

Tanbih ini dari Syaekhuna Almarhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda : “Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dhohir maupun bathin.


Pun kami tempat orang bertanya tentang Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama maupun negara.
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadlirat Illahi Robbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara.

Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama maupun negara, agar dapat meneliti diri, kalau kalau tertarik oleh bisikan iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita.

Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :

Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dlohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai.
Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).
Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.
Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.


Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang-orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a. s. mengingat ayat 70 Surat Irso yang artinya :

“Sangat kami mulyakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan mereka lebih utama dai makhluk lainnya.”

Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Surat Al-Maidah yang artinya :

“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama maupun negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama maupun negara".

Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Surat Al-Kafirun ayat 6 :”Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”,
Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
Cobalah renungakan pepatah leluhur kita:
“ Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
Dalam surat An-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa :

“Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”.

Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dlohir-bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya “ Budi Utama-Jasmani Sempurna “ (Cageur-Bageur).
Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dhohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.

Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Amin.

Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan

(KH.A Shohibulwafa Tadjul Arifin)

Kontroversi Maria “Miyabi” Ozawa

Kemarin Noordin. Saat ini Maria “Miyabi” Ozawa . Yang pertama bintang satu ideolog militan. Selanjutnya top up porno star. Yang awal dan belakangan sama-sama menggempakan seluruh media. Dan tentu saja penonton, pendengar dan pembacanya mendapatkan dampak langsungnya. Sialnya, hampir seluruh penduduk negeri ini kecanduan layanan ekstase media (termasuk saya, hehe). Walhasil, ia pun menggempakan hampir seluruh masyarakat.

Tak seperti mendiang Noordin yang disikapi secara hampir seragam di permukaan: laknat, kasus rencana kedatangan Artis ‘hot’ Jepang ke Indonesia ini menyuguhkan pro-kontra yang tajam belati. Kubu anti-Miyabi ketakutan sekaligus menakuti dengan bahasa moral, sedangkan mereka yang pro-Miyabi menyandarkan diri pada hukum dan kebebasan berekspresi. Golongan pertama yakin kedatangan Ozawa akan berdampak negative terhadap moral generasi bangsa. Kelompok kedua mengindahkan hukum dan menghargai kebebasan serta merayakan kreatifitas para seniman. Walau ada juga kaum “moralis” yang mempersilakan artis peranakan Jepang-Kanada itu datang ke Indonesia. Ia lah Sang Ustadz “infaq” Yusuf Mansyur. Ia bertekad akan menceramahi, mengajak Maria Ozawa “kembali ke jalan yang benar” (Kami segenap Keluarga besar insan-bait mendoakan moga saja Miyabi jadi rajin shodaqoh, hehe…).

Saya pribadi—lepas dari pengaruh dan taklid kepada orang lain (jadi besar kemungkinan keliru) setuju-setuju saja bila Maria Ozawa datang ke Indonesia untuk kepentingan film Menculik Miyabi. Kenapa tuh? Suka ya? Suka gak suka itu personal lho,,,Alasan utamanya sederhana saja. Saya takut apabila Miyabi dicekal kedatangannya ke Indonesia akan memancing kecemburuan para koruptor bangsa. Saya takut para koruptor itu berdemo dengan tuntutan: “Kenapa Miyabi yang statusnya masih: bakal-calon-potensi merusak moral bangsa saja dihalangi masuk Indonesia, sedangkan kami yang telah aktual, terang benderang merugikan Negara secara konkrit masih diperblehkan hidup, beranak-cucu, dan sesekali berpelesiran di negeri ini? Ini tidak adil. Keluarkan kami juga dari Indonesia”. Wah, kalau itu terjadi masalah akan tambah runyam, lo!

Kalau menuruti nafsu belaka saya juga emoh Miyabi datang ke Indonesia. Gak guna. Ya buat apa??? Di film Menculik Miyabi pasti ia tak beradegan “hot” seperti biasanya. Ia pasti berbusana lengkap. Bukankah daya jual Miyabi itu ada dalam telanjang dan adegan senggamanya? Mending tetap di Jepang saja main film gituan, entar DVD nya kita tonton rame-rame di sini. Sekali lagi. Itu kalau nurutin nafsu!

J
ADI INTI KOMENTAR SAYA TERHADAP KOTROVERSI "MIYABI" INI IALAH : “SAH-SAH SAJA MIYABI MASUK INDONESIA.JANGANKAN MASUK INDONESIA YANG NOTABENE MILIK PUBLIK, MASUK ISLAM SAJA GAK ADA YANG BERANI NGELARANG KAN???”