Gus Dur


Bismillah...
Kepergian Gus Dur begitu menyakitkan kita semua. Bukan hanya dirasakan oleh warga nahdliyyin atau umat muslim Indonesia tetapi semua masyarakat di nusantara bersedih pilu atas mangkatnya pejuang kemanusiaan ini. Bahkan kemarin, pukul 18.45 WIB, saya sempat mendengar angin menjerit keras seperti menahan sakit yang teramat dalam. Air histeris meratap, sementara langit berteriak kencang. Sampai tadi pagi, kudengar kokok ayam tak seperti biasanya. Sayatan hati yang pedih tergambar jelas dalam suara paraunya. Semua berduka. Semua meratap.

Ingin sekali saya menulis tentang Beliau. Tentang jasa-jasanya... Ah tidak. Aku urung. Terlalu sempit halaman posting ini untuk menceritakan jasa beliau pada bangsa dan manusia, terlebih jasanya pada kaum minoritas dan terpinggir. Tentang pemikirannya, mungkin?...Aku kembali emoh. Mustahil rasanya pikiran dan pemahaman manusia biasa seperti saya menganalisa "peta" pemeikiran Beliau yang teramat kompleks dan maha canggih. Pasti tentang ciri khasnya, jokes

Nama

Nama adalah penanda. Ia hadir agar sesuatu bisa dikenali. Keberadaannya menjadi suatu keniscayaan bagi setiap keberadaan karena ia dibentuk sedemikian rupa sehingga akhirnya dianggap dapat memenuhi dan menjadi representasi dari segala unsur suatu keberadaan. Tak perlu kita berbicara panjang lebar--rokok berwarna hitam dengan tubuh yang memiliki lingkaran kecil dan agak panjang; menimbulkan sensasi di mulut yang sulit dikatakan saat rokok itu dihisap; saat ini sedang intens dalam “proyek bareng” dengan beberapa komunitas hobbies sebagi media promosinya. Di bidang otomotif (mobil dan motor) digelar berbagai event, seperti Djarum Black Slimznation, Djarum Black Motodify, Djarum Black Night Slalom, Autoblackthrough, Autoblackthrough goes to campus…--hanya untuk menyebutkan rokok Djarum Black. Bukan hanya ngawur, bahkan komunikasi pun akan tiada bila tak ada nama.

Nama juga memiliki sisi lainnya. Ia tak hanya memiliki fungsi “lahiriah”, namun ia juga mengandung sisi “batin” yang begitu kompleks yang menampung berbagai kesadaran

Manakiban dan Penjelasan Sederhana Atasnya


Setiap tanggal 11 berdasarkan penanggalan kalender hijriah ada sesuatu yang teramat istimewa bagi seluruh pengamal thoriqoh (takrekat) Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya. Di tanggal itulah ritual pembacaan manaqobah-yang biasa disebut dengan acara Manakiban-Sulthon Auliya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, digelar. Bukan hanya jamaah atau ikhwan dari Indonesia saja yang menghadiri acara agung tersebut. Bahkan, dari luar negeri pun berduyun datang demi mengalap berkah dari pemiliki manaqib.


Manaqib itu sendiri adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang. Dan dalam konteks amaliyah Manakiban thoriqoh (takrekat) Qoodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya adalah manakib atau kisah bajiknya Sulthon Auliya Syekh Abdul Qoodir Al-Jailani.


Alhamdulillah, pada bulan yang lalu saya ditakdirkan oleh Allah, melalui berkah-karomah

Darah Suci Itu Tumpah Di Padang Duka Karbala


Lihat dan perhatikanlah warga muslim kini, khususnya muslim Indonesia. Kemerdekaan dalam genggaman. Kebebasan bukan lagi mimpi indah nun jauh di langit, namun tengah teralami di bumi. Jangankan hanya untuk menyampaikan pendapat dan berafiliasi, bahkan para pejabat tinggipun ditunjuk dan didakwa. Ini terlihat mudah, terkesan hanya mengandalkan "kepintaran" dan sedikit keberanian. 

Namun tahukah wahai saudara. Dulu, beberapa abad yang lampau. Tepatnya ketika penguasa lalim dari Bani Ummayyah-Yazid bin Muawiyyah-berkuasa, memegang tampuk kekuasan. Kebebasan dan kemerdekaan benar-benar telah dinistakan, direnggut dari manusia dan kehidupan. Dan puncaknya adalah tanggal 10 Muharram. Di Padang Karbala. Al Husain, cucu

Di Suatu Pagi

Pagi hari. Masih matahari yang itu-itu juga. Terbit di tempat yang itu-itu juga. Sambutan hati atas kelahirannyapun masih yang itu-itu juga. Malas. Bosan. Jenuh. Semua berkelindan dalam diri hingga akhirnya membentuk suatu perasaan yang kerap mereka bilang: bad mood. Pagi bad mood. Matahari bad mood. Hati bad mood. Kehidupan benar-benar diawali dengan bad mood. Bad moodpun menjadi hidup itu sendiri. Perkenalkan, namaku badmod, hatiku berseloroh satire.

 Gontai kuberanjak ke halaman belakang. Kujatuhkan tubuh konyol ini di kursi rotan yang pasti akan tersinggung bila disebut “kursi bagus”. Seperti biasa, ia menerimaku apa adanya. Menyambut semua sisiku tanpa kecuali. Kuambil sebatang Djarum Black Slimz yang tak memiliki satupun saingan di “rumahnya”. Akhirnya… kudengar ia berlirih lega setelah penantiannya selama ini berakhir. Kubakar ia tanpa ampun, tak berbelas. Walau kusadar hatiku menaruh harap berlebih padanya. Berharap dapat mengasapi bad mood hingga akhirnya tak terlihat?


Di hirupan pertama kutemukan satu kemungkinan yang selama ini senantiasa terlupa, tak pernah hadir di setiap pagi: mungkin hari ini gak bakalan bad mood. Asappun kembali

DARI TA’ARUF SAMPAI SELAMAT NATAL



 SELAMAT HARI NATAL 
DAN TAHUN BARU
SEMOGA DAMAI SENANTIASA TERWUJUD 
DI BUMI DAN DI HATI

Sebenarnya ini adalah tulisan saya sekira empat tahunan yang lalu. Namun saya pikir tulisan ini masih relevan sampai sekarang karena keabsahan umat muslim mengucap selamat hari raya pada pemeluk agama lain masih banyak diragukan dan dituduh sebagai bentuk pelemahan akidah. Tulisan ini merupakan hasil ittiba saya kepada beberapa ahli yang cukup otoritatif terhadap kajian Islam. Dengan tulisan ini saya hanya mengekspresikan pedapat pribadi saja, tanpa mengandung tendensi apapun. Apalagi mengajak orang lain untuk mengikuti pandangan dan pemahaman saya.   
DARI TA’ARUF SAMPAI SELAMAT NATAL   
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbagsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Mengenal.

Ini Budi

Ini Budi.
Ini bapak Budi.
Ini ibu Budi.
Budipun beranjak dewasa. Ia kuliah fakultas hukum dan lulus IPK cumlaude.
Dan kini Budi sukses. Menjadi hakim. Namun ia tetap tak meninggalkan kebiasaannya sewaktu kecil: meng-eja.
Ini Budi = Ini hakim
Ini bapak Budi = Keluar Bui
Ini bukan bapak Budi
Ini bukan ibu Budi

Makna Kebebasan Dalam Islam

Selamat tahun baru hijriah. Selamat berhijrah, semoga kita bertambah cerah.
Islam (sebagai agama), dalam perjalanannya banyak sekali menampakkan wajah. Ia tak hadir hanya dalam satu rupa, namun dalam beragam wujud. Atau mungkin para penafsirnyalah yang memiliki banyak kaca mata dalam melihat dan memperlakukan "Islam"? Satu waktu ia dapat menjadi pendorong revolusi bagi warga kelas dua dalam mendapatkan keadilannya kembali. Namun kita juga tahu--bahkan mungkin mengalami--Islam pernah dijadikan legitimasi oleh pihak-pihak tertentu dalam memberangus kebebasan manusia. Islam pernah dijadikan belenggu bagi kebebasan berkespresi. Islam pernah dijadikan plester demi membungkan mereka yang menyampaikan pendapat. Islam pernah dijadikan peluru dalam membunuhi kreatifitas para pelaku seni. Fenomena-fenomena "perenggutan" semacam ini selalu mengantar kita pada sebuah pertanyaan: Bagaimana Islam Memandang Kebebasan?

Motivasi saya mengangkat tema kebebasan dalam tulisan kali ini karena masih banyak sekali orang yang menganggap atau memahami kebebasan itu secara dangkal. Banyak orang yang

Pelesir Spiritual

Ada yang tak biasa pada Idul Adha 1430 Hijriah yang baru saja kita rayakan bersama. Idul Adha begitu istimewa karena ternyata bertepatan dengan ritual Manakiban di Pondok Pesantren Suryalaya. Rencananya saya dan seorang teman SMA akan bersama-sama berangkat ke sana. Tapi apa daya, takdir tak selalu sama dengan yang kita suka. Teman membatalkan ikut serta, yang akhirnya saya berangkat seorang diri kesana, tanpa teman sma. Tapi tak apa, karena niat diri telah meraja.


Sore hari, selepas bakar sate dan makan goreng ati, sayapun pergi seorang diri. Sebatang Djarum Blackpun dikonsumsi biar mood lebih mendominasi diri. Saya berangkat dengan niat menyucikan diri, sama sekali tak terkontaminiasi dengan para santriwati yang katanya begitu gampang mengikat hati. Itulah yang dirasakan diri. Walau hanya Gusti yang mengetahui pasti kebenaran hati. Dengan si kuda besi, kususuri jalan seorang diri. Sementara mentari perlahan bergerak meninggalkan bumi, demi sang malam yang mulai meminta posisi.


Maaf. Saya Kerja!

Anggap saja posting ini sebagai permohonan maaf saya kepada semua sahabat di alam virtual (Terutama sobat-sobat Black Community yang sama-sama mengkikuti kontes blog Djarum Black, Djarum Black Competiton Vol II. Sekarang jangan nagih-nagih lagi update ya! Nih saya kasih, hehehe ). Alam virtual...Sebuah alam yang bagi saya menarik. Menarik karena ia berada antara konsep ada dan ketiadaan. Ada unsur ketiadaan karena ia tak bisa dijamah secara kasar, diperlakukan sebagaimana materi yang benar-benar ada. Namun justru di sana pulalah berjuta manusia mampu eksis. Sebuah dunia yang tak menampakkan wujud, hanya berisi ide-ide. Maka relevanlah sebuah pertanyaan mistis: "Mana yang lebih utama: akal atau tubuh?; raga dibanding ruh?"

Baiklah para sobat maya :-)...Bukan tanpa alasan saya lama tak kunjung dan bersua dengan para sahabat. Jauhkan pula syak wasangka di hati para sahabat semua yang kurindu. Bukan sombong, bukan pula dada bolong. Tapi kemarin-kemarin ini saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya. Oh ya, selain menjadi blogger, saya pun memiliki profesi lain yang bagi saya tak kalah menarik dan menantang! Yaitu menjadi pendamping Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Program Keluarga Harapan (PKH) Departemen Sosial. Dan pada tanggal 9-10 Desember, Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan (UPPKH) Kabupaten Sumedang

Markus

“Makelar” kini tengah ramai dibincang. Iapun disandingkan dengan sebuah kata yang tak biasa. Bila tanah, mobil, rumah, telah akrab di telinga dan pengalaman kita, namun ketika “makelar” berdampingan dengan “kasus” ia terdengar janggal dan mengandung kecurigaan. Terlebih makelar yang ini muncul setelah cerita fabel yang paling melodramatik di negeri ini digelar. Sebuah dongeng berjudul Cicak Lawan Buaya. Makelar kasuspun muncul menjadi isu publik.

Kabareskrim Polri yang baru, Ito Sumardi, menyatakan pembersihan makelar kasus akan menjadi target prioritas kerjanya. Instansi penegak hukum lainnyapun seperti pengadilan dan kejaksaan senada dengan langkah Polri. Mereka menyatakan sikap akan melawan dan mensterilkan kantor-kantornya dari para makelar kasus yang telah memiliki nama popular: markus. Di lihat dari body language-nya, mereka terlihat serius. Mereka seperti tak main-main dengan para markus.

Kita tidak dapat melihat dan menyikapi fenomena markus ini secara soliter, terpisah dari fenomena lainnya. Ia tidak hadir di luar “situasi”, namun merupakan datang dari sebuah kondisi atau keadaan tertentu, sama dengan fenomena sosial lainnya. Sebagai ilustrasi, hadirnya berbagai komuitas dan kompetisi kreatif yang diprakarsai oleh Djarum Black, seperti: Black Car Community, Blackinnovationawards goes to campus, Black Blog Competition, dan yang lainnya, itu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa sebab, seperti lahirnya Isa dari Ibu Maryam yang suci (walau sebenarnya itu juga akbat dari sebuah sebab: Mukjizat Tuhan). Itu merupakan respon atau reaksi atas sebuah situasi ketika kreatifitas dan inovasi para kawula muda khususnya benar-benar tumbuh bahkan berkecambah. Maka datanglah Djarum Black dengan segala fasilitasnya memberi ruang bagi para kawula muda dalam mengekspresikan dirinya dengan lebih maksimal dan tentu saja lebih dapat diapresiasi khalayak luas.

Kembali ke markus. Kehadirannya begitu kompleks karena ia tidak lahir hanya dari satu, melainkan berbagai kondisi. Setidak-tidaknya ada dua kondisi atau situasi (Anda boleh menambahkannya lagi) yang melatarbelakangi munculnya para markus.

Yang pertama adalah rumitnya jalur birokrasi-administrasi di negeri ini. Berbelitnya pengurusan suatu kepentingan hukum membuat masyarakat enggan atau malas melakukan pengurusan dalam jalur resmi. Proes yang panjang, banyaknya “pintu” yang harus dilewati, belum lagi para petugas yang menambah-nambah keruwetan ini demi kepentingan pribadi, dibaca oleh beberapa kalangan—baik individu non institusi maupun individu dalam institusi hukum—sebagai peluang usaha dalam bentuk pemberian jasa akses “jalan pinggir” kepada masyarakat yang tak mau buang-buang energi mengurusi proses legal yang jelimet. Yang tentu saja jasa dari markus dapat lebih singkat, mudah, dan terkadang efisien. Terlebih, para markus ini mampu memberi garansi “berhasil” pada para kliennya. Markuspun lahir dan dianggap sebagai solusi oleh kedua belah pihak: masyarakat yang ingin mudah dan menang, juga aparat yang menginginkan “lebih”. Hubungan mutualistis inilah yang membuat para markus bergeming.

Yang ke dua adalah sikap mental masyarakat itu sendiri. Kita tak dapat menutup mata bahwa “pengadilan jalanan” terkait pelanggaran lalu lintas, kerapkali datang dari tawaran masyarakat yang ditilang. Pun sama halnya dengan kasus hukum yang lain. Sikap malas “berperkara” sesuai prosedur yang sah banyak diidap masyarakat. Terlebih kondisi ini semakin "dikondusifkan" dengan rumitnya birokrasi-administrasi mengakibatkan “jalan pintas”pun menjadi lazim bahkan mentradisi. Sikap kita yang ingin selalu mudah, ringan, dan terlebih rakus: menang walau secara sadar salah, tanpa kita sadari telah memelihara para markus itu sehingga mereka tetap hidup dan mengotori kantor-kantor para penegak hukum di Indonesia. Dalam hal ini, keberadaan para markus itu adalah produk yang muncul dari sebuah kebutuhan masyarakat yang terus-menerus. Kebutuhan akan kemudahan, terlebih kemenangan perkara.

Menyadari akan kompleksitas fenomena markus ini: kemacetan struktrual sekaligus kekeliruan kultural, membuat kita tak akan mudah mengatakan “mudah” pada upaya pembersihan markus di lingkungan institusi penegak hukum di Indonesia. Namun juga bukanlah sesuatu yang utophia. Karena tak ada kata tak mungkin di dalam masyarakat. Sejarah telah mempertontonkan pada kita bahwa masyarakat mampu mewujudkan hal yang musykil sekalipun.

Semua kembali pada kita. Bukan kami di sini ataupun mereka di sana. Hanya dengan kita praktik makelar kasus ini dapat terselesaikan.

Bila di sana para penegak hukum tengah berupaya membersihkan para markus melalui kapasitas dan otoritasnya yang dimiliki, kitapun di sini memiliki otoritas yang tak kalah penting dan harus kita pertanggungjawabkan, yaitu otoritas pada diri sendiri. Atau yang biasa disebut dengan kendali diri.

Elegi Putri


Malam yang dingin menggigit tulang sampai ke nadi. Kurebahkan diri, berkontemplasi, mencoba berdamai dengan hati. Namun apa daya, konsestrasi tetap tak mau mengunjungi. Terhijabi oleh pesona Putri yang selalu menawan hati. Selalu pula kuingkari.
Pagi datang menghapus mimpi tentang Putri. Sang mentari menerjang bulan yang dari semalam menguasai bumi. Kudengar bunyi ponsel memecah sunyi, membangkitkan rasa dalam diri. Tulisan Putri yang terukir di ponsel semakin mengiris nurani. Ponsel tetap berbunyi tak kunjung henti. Namun diri tak kuasa untuk menyambut Putri. Ponsel kembali berbunyi, kembali menarik gejolak dalam diri. Tapi tetap kuhijabi dengan wajah mami. Ponsel kembali berbunyi, berbunyi, dan terus berbunyi. Namun diri tetap bergeming, karena menjaga diri menjaga Putri.  Hati terasa dikebiri, jiwa perih tak terperi. Air mata menepuki elegi yang bermelodikan duri.
Kudengar Putri berusaha bunuh diri. Sontak ada rasa nyeri menusuk ke ulu hati. Ingin sekali membelai Putri, mendongeng tentang kisah negeri yang penuh dengan para peri sebagai pengobat lara hati Putri. Namun bayang wajah papi menghalangi niat diri. Kembali kaki batal melangkah pergi, demi menjaga diri menjaga Putri. Walau frustasi semakin menjadi.
Ketika frustasi semakin mendominasi diri, papi mami semakin tak terkendali. “Sadarilah anak tak tahu diri, mami, papi ini manusia terhormat bergelar haji. Belum lagi papi yang pernah jadi kandidiat menteri. Sedangkan Putri? Hanya seorang anak pedagang kelas teri yang bahkan tak berpeci. Bangunlah anak tak tahu diri! Lihatlah dirimu di cermin ini. Berapa minggu kau tak pergi mengaji? Berapa minggu kau mengurung diri? Berapa minggu kau tak mandi?” Mata mami melirik papi, mencari pembenaran asumsi pribadi, “Mungkinkah ia diguna-gunai si pedagang kelas teri?” Papi hanya berdiam diri, walau ku tahu anggukannya mengamini.
Kuterpekur di depan cermin kamar mandi, menatap nanar pada cermin yang tak berbayang diri. Perih hati berubah menjadi benci, benci pada mami, papi, sekaligus si pedagang kelas teri.  Sekilas ingin kutapaki langkah Putri, mencoba mengakhiri diri, melepaskan tali yang mencengkeram hati. Baru saja kuteguhkan diri, papi mendobrak pintu kamar mandi. Niatpun akhirnya tak terjadi. Namun ku bersumpah akan berbuat yang lebih lali, biar terpateri di hati-hati orang tua ini.
Kuhisap sebatang Djarum Black di tengah jemari, mencoba mencari inspirasi atau sekadar relaksasi diri. Namun kali ini Djarum Blackpun tak mengilhami, karena frustasi benar-benar tak tertandingi. Nafsu semakin tak terkendali, nurani seolah mati, karena sakit hati terpisah dari Putri si pujaan hati.
Kuputuskan pergi menemui teman yang bernama Andri. Papi, mami tersenyum menyangkaku telah kembali seperti sehari-hari. Mereka tak mengerti, bisikku dalam hati, mencibir dua orang ini.
“Tumben kau kemari, mana teman-temanmu yang dari Black Motor Community?” Andri menyapa sekaligus mentertawai. “Saat ini aku ingin pindah komuniti, mencoba yang benar-benar lali dan mengancam diri” Aku balik menggertak,  tak mau kalah dengan si Andri. “Black Motor Community mana mungkin neken ekstasi apalagi main belati. Makanya aku mencarimu Ndri” Andri manggut penuh ekspresi, tahu benar apa yang kuingini. Aku dan Andri terus berbincang tak henti,  sementara wajah Putri tetap menghantui, semakin menyiksa diri.
Perjodohan dengan geng Andri membawaku pada dunia tanpa arti. Shabu dan ekstasi menjadi sesuatu yang sehari-hari. Sementara whisky menjadi teman akrab sepanjang hari.  Bukan hanya ngutil sana sini, bahkan mencuri motor, mobilpun pernah kualami. Belum lagi pelampiasan birahi yang menyerupai anjing. Namun untuk yang satu ini, aku tak pernah melakoni. Setiap kali ingin itu mendatangi diri, setiap kali itu pula wajah Putri menghantui, menahan birahi.
Lima bulan hidup di jalanan telah kulalui. Beribu duri telah kuakrabi, berjuta dosa telah kualami, kunikmati. Papi, mami seperti belum menyadari. Atau mereka lebih menyenangi aku seperti ini daripada menggila-gilai Putri? Aku benar-benar tak peduli. 
Terkadang nurani seolah mengajak kukembali. Namun tetap kutolak dan kukhianati. Ada rasa iri setiap kali melihat teman di Black Motor Community, mereka penuh vitalitas dan benar-benar tahu diri.  Namun tetap kutamengi diri, bergeming di dunia yang tak memberikan arti, menghanyutkan rasa dalam bergelas-gelas whisky dan butiran ekstasi.
Sampai kudengar di telinga ini Putri diperiststri juragan tanah dari Betawi, sesuai dengan titah si pedagang kelas teri. Pedih tak terperi kembali menjalari setiap denyut nadi. Duri-duri menusuki hati hingga menginggalkan luka yang tak terobati. Ingin kuberlari dari kenyataan yang tak ramah pada diri. Atau kuinterupsi sang ilahi yang seperti tak memihak pada cintaku dan Putri. Namun apa daya, kenyataan hanyalah bayang dalam mimpi, sementara tuhan tak kunjung menamapakkan diri. Tinggallah dunia gelap yang menjadi kompensasi. Dengan wajah Putri tetap menemani.
Seperti malam-malam yang lain, Andri mengajakku pergi. Tentu saja pergi ke tempat yang tak bermaknawi. Akupun bersemangat mengamini, demi menistakan diri yang perlahan mulai kubenci.  Andri bercerita bangga karena baru saja berhasil merampok mobil dari salah satu anggota Black Car Community. Pestapun digelar dengan mengumbar birahi. Berpasang-pasang sejoli yang baru saja saling tahu nama pribadi terlihat masyuk dalam suasana surgawi layaknya pasutri. Sampai akhirnya sirine polisi berbunyi, tanda mereka datang menghampiri. Kamipun dibui. Dibui.
Berselang satu hari, papi, mami menjenggukku ke bui. Tak ada lagi aura bengis di wajah papi. Begitupun mami. Ke mana wajah-wajah buram orang tua ini? Adakah mereka kini menyadari? Aku bertepuk tangan di hati, merayakan kemenangan yang kini mulai beralih posisi. Akupun bersumpah akan melakoni yang lebih lali, biar puas hati ini melihat mereka sakit hati seperti hati ini yang mereka pisahkan dari Putri, sang belahan hati.
Papi menghubungi polisi, akupun keluar bui. Manis kini menjadi topeng mami, papi. Aku tak peduli, bahkan semakin tak tahu diri. Karena bukan manis yang kuingini, tapi kembalinya Putri pada genggaman jemari. 
Kudengar Putri hamil empat puluh hari. Si nafsu semakin tak terkendali. Kembali aku masuk bui. Papi mengeluarkanku lagi dari bui. Di bui lagi, papi menghubungi polisi. Dibui, polisi. Dibui, polisi. Dibui, mami sakit bertubi-tubi.  Polisi. Dibui. Tak ada polisi. Tetap dibui. Mami merengeki papi. Polisi. Keluar dari bui. Sementara Putri tetap menguntit diri.
Suatu hari kulihat Putri. Ia berjalan sendiri tanpa suami, tanpa si pedagang kelas teri. Otak yang tengah terkontaminasi whisky menguatkan diri untuk mendekati Putri lama kutertegun memandangi Putri. Kutemukan beribu sayatan sembilu dalam lubuk hati, menyempurnakan rasa sakit Putri. Tak tersadar kini Putri tumpah dalam pelukan diri. Air mata campur darah melinangi tubuh, tembus sampai ke jantung hati.
Hasrat diri seolah membutakan nurani. Nafsu kini merongrongi kami yang saling berusaha memahami diri. Birahi kami bersua di tempat terjauh dalam diri. Sempat terlintas ingin meyudahi ini, tapi apa daya, kami terlanjur saling menyetubuhi. Saling berbagi beban nurani.
Kulihat Polisi menemui papi. Padahal tak ada ekstasi apalagi belati. Bahakan si andri telah enam hari mati dibunuh para napi. Kenapa masih ada polisi?
Papi terbujur di atas kursi, tanpa basa basi aku dipegangi polisi, sambil menginterogasi tentang Putri, juga menyebut juragan tanah dari Betawi, dan sesekali si pedagang kelas teri.
Kulihat Putri bersaksi di sidang pengadilan negeri, berbicara telah disetubuhi tak manusiawi oleh diri ini. Perih hati bukan karena jaksa menginterogasi, namun tahu nasib Putri yang diancam mati sang suami. Ingin hati memutilasi si juragan tanah dari Betawi atau sekadar menyayat ia punya nadi. Namun apa daya aku kini dalam bui, tanpa papi dan bincang dengan polisi.
Di bui aku tak sendiri. Berkamar dengan para penjahat tak berhati yang telah lama tak bersua dengan para istri. Mendengar kasus asusila yang menjebloskanku ke bui, sontak memancing syahwatnya yang lama tak beraktualisasi. Mereka pandangi diri ini dengan segenap nafsu birahi. Tanpa perlawanan atau kesempatan membela diri, orang-orang itu menyetubuhiku tak henti. Jerit hati tak kuasa membuat mereka berhenti. Mereka tetap menyetubuhi tanpa peduli, tanpa basa basi.  Begitulah setiap hari, disetubuhi para lelaki. Samakah nyeri ini dengan rasa nyeri Putri? Tanyaku dalam hati.

Tak kuasa dengan hina dan derita ini, kuniatkan untuk mengakhiri diri. Kuizin pada Putri walau dalam imaji, sebagai peneguh niat dalam diri. Kupinjam belati pada “RT” yang mati hati. Memotong kuku lancar menjadi alibi. Kuberanjak pergi menuju kamar mandi, meluluskan niat yang lama bercokol dalam hati. Putri, maafkan aku yang selalu tak bisa memberi. Tapi ketahuilah Putri, cinta ini akan senantiasa abadi. Papi, aku sadar tak ada bakti. Bahkan budi sama sekali tak kumiliki. Tapi mohon ridoilah diri. Mami, kini aku sadar cinta selalu mendasari Mami, walau dalam rupa yang seringkali tak kumengerti. Kini sungguh aku tak kuasa hidup di atas bumi. Semoga Mami mengampuni.
Belati bergerak menyayat nadi. Perih menembus hingga ke jantung hati. Imaji Papi, Mami, Putri semakin buram memudar, akupun mati…
Belai lembut membangunkan diri yang lama bermimpi. Wangi mami terasa memenuhi nurani. Aku berusaha untuk menyadari apa yang tengah terjadi. Apakah aku tak jadi mati? Siluet wajah mami membuatku yakin bahwa aku belumlah mati. Rasa sesal bercampur lega berkelindan menelusuri rongga jiwa, memenuhi relung-relung hati. Saat itulah baru aku merasa pasrah pada apa yang kan menimpa diri.
Kulihat papi duduk di sebelah kiri. Kuterperanjat setengah mati. Kulihat kursi roda menyertai papi. Meledak sesal tak terperi dalam hati mendengar penjelasan mami yang katanya stroke menyerang papi. Oh Gusti, apa yang telah kuperbuat pada papi? Tanpa sadar ku memohon pada Sang Ilahi yang dulu begitu kubenci.
Belum juga kusadarkan diri, mami memberi potret yang bergambar Putri, memberi pedih yang bertubi. “Putri mati bersama sang bayi” gumam lirih mami. Bumi terasa menindih diri, pedih mengoyak jiwa dan hati. Beribu kali lebih pedih dari sayatan belati pada nadi, sakit lebih menyiksa melebihi sodomi para napi yang haus istri. Ya robbi… jeritku dalam hati menyerupai iblis yang terusir dari istana surgawi.       
Kini Putri telah benar-benar menjadi imaji, cintapun hanya sebuah elegi. Saat merasa diri benar-benar sepi, mami menggenggam lembut jemari. “Dari hati, maafkan mami, papi.” Sunyi menyelimuti hati, air mata berderai membasahi pipi, membasahi hati.
Kulihat wajah papi, berakhir di mami. Kusadari sesuatu yang telah lama pergi kini mulai merasuki diri. Ia tidak mati, tapi hanya terhijabi oleh benci. Ia yang senantiasa memenuhi nurani. Ia yang bernama cinta papi, cinta mami. Walau dengan ciut nyali karena tahu diri namun energi hati mendorong diri, menguatkan bibir tuk berujar lirih pada mami: “Terimakasih mami telah memberi kehidupan. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali.”

Persembahan Dari Sahabat

Puisi Dari Sahabat Sabda Cahaya

Fitnah

matamu yang surut,
menyoroti ruang gelap temaram
matamu yang dangkal
menatapku liar, mencair dalam cahaya
ada kisah renik-hidupku yang kau celah
yang kau sembur dengan serapah
ini kisah lajangku-jalangku,
yang telah kau cabikcabik dan kau kunyah
adakah kau tahu?
katakatamu sejengkal lagi menjerat leherku
tapi pernahkah kau ketahui,
bisikku lebih keji dari sembur ludahku kemukamu
sedang tentang jejak,
biarlah angin malam yang menyapu suci
biarkan ia pulas dalam tekak dan teriak.
* sebuah puisi untuk insan http://www.insanitis37.blogspot.com/

Komentar Insanitis37
Kucari mata malaikat itu...
Kutilik di setiap masa atau sepenggal kisah...
Lama aku tertegun...
Angin berhembus menyibak nurani, dingin menggigil hingga ke jantung...
Antara hati dan jantung, ada sebuah lorong menganga. semburat cahaya menyembur menerangi semesta...
Antara hati dan jantung, kulihat bayang suram wajahmu.
Bukan dirimu yang gelap, namun hatikulah yang kusam balas bergulat dengan peluh dosa.
Maafkan hati yang menafsir.

NB: terima kasih dari hati atas persembahan lautan rasa untukku. thanks jg udah ngasih link di posting, hehehe
Semoga semua dirimu berbahagia

Puisi dari Sahabat Nirma Yawisa

Senyappun Jera Padaku

Mungkin saja aku tak ingat,
Ada gemerisik rindu di patahan ranting hatiku
Cerita tanpa kata yang kubuat
Untuk sayap yang mengangkasa pergi
Yang jelas,
Aku menatap senyap
Tak merasa, tak meraba,
Hanya tertawa, dedaunan tua yang lama mengering
Bantaran hati yang lama t'lah landai
Hanya bersenandung kecil,
Membisukan nada-nada hampa
Yang meti tercekik dalam sebuah kesepian
Hanya menikmati semua
Mengaliri kembali mataku yang tak lagi basah


Mungkin,
Sudah cukup bagiku semua gelap
Hingga kelam pun jera tuk bersama.
……..
………


Epilog ini,
Buktikah akan muakku?
Rasanya senyap pun lamat-lamat akan lari dariku..

Komentar dari Insanitis37
"Epilog ini,
Buktikah akan muakku?"
mudah2an ini bukan ditujukan tuk diriku, hehe

ketika kata terdengar menggugah,
saat tulisan terlihat menyalak
yakinilah bahwa itu tak hanya kata, bukan sekadar tulisan.
Namun emosi jiwa yang niscaya dimiliki para pecinta...

Sekali lagi makasih banyak y teh, tar aku posting y puisinya...

Puisi dari Sahabat Setia Kasih

keterasingan

membawa seribu macam rasa
alam pancawarna
ghaib tiba-tiba
tanpa aku tahu kenapa?

sunyi
meyelinap masuk
ruang hati yang paling halus
saat demi saat
ia mula mengisi
kekosongan yang cuba dinafikan
kewujudan
membawa rekah
yang pedihnya
tidak terungkap dengan kata-kata.

bagaimana mungkin boleh tercantum semula
luka gurisan
yang kau tinggalkan
sebagai hadiah hitam
paling bersejarah
kamus kehidupanku.

ah.. keterasingan
dalam keramaian
itu menjadi aku!

suara suara sepi
bergema di corong telinga
melodi tiada henti
menghantuiku
saban malam
menduduki segala mimpi ngeriku
dan tika itu
aku sangat perlu hadirmu
menenangkan gusarku
rengkuh jasadku
dekap hatiku

oh... aku perlu kamu!

memangnya kenapa
keterasingan ini makin jelas
melukai jiwaku?

Mau lari?
aku tertanya pada diri
tapi ke mana kaki ini mau membawaku pergi?
jauh
jauh
jauh
dari rasa sunyi maha sepi
yang memetakan perjalananku ini.

duhai Kamu yang memelihara hati
aku mohon
pimpinlah dan terangi jalanku
lepasi daerah serba asing lagi menakutkan ini...



setiakasih
p.s: buat insanitis37


Wedal

Para readers dan teman-teman Black Community semua, pada posting dalam Djarum Black Competition Vol. II ini, saya akan mengangkat tema budaya. Mungkin sebagian kita ada yang merasa aneh karena tema budaya ini sepintas tidak relevan dengan tema Djarum Black yang lebih ke life style-kontemporer, seperti event Djarum Black Night Slalom, dan berbagai even lainnya yang cenderung "pop". Tapi bagi saya tema budaya juga sangat layak untuk kita ketahui karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Dan tentu saja kita semua tidak mau menjadi generasi yang terputus dari akar budayanya; generasi yang teralinesasi dari "kehidupannya" sendiri. Anggap saja posting budaya kali ini sebagai "Black In News" alternatif dari saya. Semoga tidak menjadi bete :-)
  ****
Wedal, atau dalam istilah Jawa disebut weton yang berarti hari kelahiran seseorang, mempunyai makna khusus bagi orang Sunda—tentu juga suku-suku yang lain. Ia tidak dilewatkan begitu saja sebagaimana mata modern memandang. Orang-orang dulu selalu memberi makna, menempatkan arti dalam setiap hal, termasuk dalam hal sekecil dan se-profan “hari lahir.” Mungkin karena hal itulah mereka merasa kaya ditengah keterbatasan materi. Tak seperti kini yang memunggunginya.

Adapun tentang hari Jum’at—karena ini hari lahir saya-- menurut kepercayaan Sunda bersimbol air. Mereka percaya sifat-sifat air termanifestasikan dalam karakter orang berwedal Jum’at. Orang yang lahir di hari ini digambarkan sebagai orang yang agak labil. Layaknya air yang mengalir berliuk-liuk mengikuti badan sungai, jalannya tidak lurus. Maka wedal Jum’at terkenal moody. Semua tergantung mood. Kalau lagi senang terhadap sesuatu, ia akan keukeuh terus di sana, tak peduli dengan apapun. Namun setelah ia mendapatkan hal lain yang baginya lebih menarik, ia akan meninggalkannya begitu saja tanpa kenang, karena fokusnya akan habis pada sesuatu yang baru itu.

Karena sifat individualistik (bukan dalam arti negative-tak peduli pada yang lain) inilah maka wiraswasta, menjadi blogger, dan jenis-jenis pekerjaan lain yang mandiri (tanpa atasan) sangat cocok baginya. Mereka tak mau dikendalikan oleh pihak luar. Orang-orang
berwedal ini ingin apapun sesuai dengan keinginan pribadinya. Inilah paradoks dari wedal Jum’at: ia labil dalam sikap (berubah-ubah), namun sekaligus teguh terhadap yang ia yakini.

Karena faktor luak liuk air ini jugalah yang menyebabkan orang-orang berwedal Jum’at cukup fleksibel dalam sosialisasi. Mereka tidak kaku. Ia selalu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi apapun. Tak ada ruang bagi fanatisme dalam diri orang-orang berwedal Jumat. Mungkin.

Hari Jum’at layaknya air. Bila ia dalam porsi yang cukup maka akan membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan. Kehadirannya dibutuhkan banyak orang. Namun sekalinya ia overload, meledak, lihatlah tragedy banjir yang saggup memporakporandakan banyak bangsa. Orang berwedal Jum’at bila ia dewasa, memiliki keelingan diri yang tinggi, ia akan membawa kemaslahatan dan banyak dibutuhkan oleh sekitarnya. Namun sekali saja fluktuasi emosinya meningkat, apalagi sampai kalap, out of control, daya destruktifnya akan terlihat mustahil keluar dari seseorang yang memiliki perbawa santai.

Itulah simbol air.

Selain bersimbol air, hari Jum’at juga memiliki “itungan” tertentu, yaitu enam. Dalam istilah Sunda disebut “biji”. Bijinya enam. Kalau akan melakukan tirakat, orang-orang berwedal Jum’at menggunakan bilangan enam dalam patok lakunya. Misalkan puasa, orang berwedal ini diharuskan enam hari melakoni tirakat puasanya.

Terkait simbol bilangan enam ini, katanya, orang yang medal di hari Jum’at sangat bagus berjodoh dengan orang berwedal Rabu. Sedangkan Rabu sendiri berbiji tujuh. Bila mereka berjodoh, maka angka akumulasinya adalah tiga belas (6+7). “Itung-itungan”, tiga belas itu jatuh di angka empat. Dan konon, angka empat (4) ini merupakan angka yang sempurna, istimewa. Dalam bahasa Sunda ada istilah “masagi” (dalam bahasa Indonesia persegi) yang berarti paripurna, perfect. Dan kita tahu, persegi memiliki empat sudut, empat titik.

Dari sisi simbol pun Jum’at dan Rabu memiliki korelasi spiritual. Bila Jum’at mengandung air, maka Rabu mengandung Api. Jadi apabila mereka bersatu, unsur Yin dan Yang dalam mahligai rumah tangga terjalin sempurna. (Kalau ini analisis iseng diriku, hehe).

Konon katanya (lagi), orang yang lahir di hari Jum’at memiliki watek (watak) suci. Mereka tak bisa menjalani laku “hitam” seperti “muja” atau ngiprit. Bahkan orang-orang ini tak akan terkena pelet. Orang berwedal Jum’at cocok menjadi spiritualis atau pengaji ilmu-ilmu agama.

Masih relevankah kita membincang hal ini? Saya balik tanya: Tidak patutkah kita mengenal dan mengenang warisan leluhur, penyebab kita ada sekarang?
“Relevansi” dalam konteks modern selalu menyiratkan guna, fungsi. Yang mana sesuatu itu bisa menjadi berguna dan berfungsi bila sebelumnya orang meyakininya terlebih dahulu. Inilah letak kesalahan umum orang-orang modern. Selalu mengacaukan antara: “mengetahui” dengan “meyakini.” Padahal beda terang antara ke dua kata ini.

Marilah kita kenali jejak-jejak eksistensi para tetua kita. Dengan itulah kita tidak menjadi ahistoris dan teralienasi dari budaya sendiri. Karena mengetahui tak berarti harus meyakini!

Selalu Ada Ruang Bagi Toleransi (Bila Kita Mau): Catatan Idul Adha


Idul Adha yang biasa disebut juga dengan Idul Qurban atau lebaran haji, baru saja kita lewati bersama dengan penuh suka cita. Hampir semua umat Islam terlibat dalam perhelatan ritus yang syarat makna ini. Mereka yang memiliki kemampuan, melakukan penyembelihan hewan kurban. Sementara umat muslim lain yang tidak mampu atau karena hal lain tidak dapat melakukan kurban, mendapatkan pemberian daging kurban. Tak ada yang lebih tinggi dari yang lain, karena si pengkurbanpun membutuhkan orang lain yang tak berkemampuan untuk menerima daging kurbannya, yang berarti menyempurnakan ibadah kurbannya. Semua terlibat, semuanya memiliki andil.

Bila kita perhatikan, dalam ibadah kurban ini tidak hanya berisi ritual ibadah semata yang merupakan eksklusif umat Islam, namun ia juga memiliki aspek cultural yang bersifat inklusif. Apabila takbiran, shalat id, penyemblihan hewan kurban, dan serangkaian ibadah lain yang biasa dilakukan dalam Idul Adha adalah eksklusif umat Islam (karena sifatnya ibadah maghdoh), sementara budaya silaturahim, saling bermaaf-maafan, berbagi makanan, mengucapkan selamat, itu bukan hanya milik umat muslim saja, namun saudara kita yang non Islam sekalipun dapat ikut serta melakukannya, “merayakannya”. Tak ada larangan untuk itu karena aktifitas tersebut masih dalam wilayah sosial yang bersifat profan, bukan dalam lingkup ibadah yang sifatnya sakral dan inklusif.

Saya pikir di semua perayaan hari besar agama manapun selalu memiliki dua sisi ini: ritual dan kultural, atau ibadah dan sosial. Bila sisi ritual bersifat eksklusif, milik umat yang bersangkutan saja, sedangkan sisi cultural bersifat inklusif, terbuka untuk bersama-sama “dimiliki” dan dan diryakan oleh umat agama lain. Sisi inklusif inilah celah bagi kita untuk dapat menunjukkan apresiasi pada pemeluk agama lain demi mewujudkan toleransi dan solidaritas. Berdasarkan pertimbangan ini pula banyak para pakar Islam yang membolehkan umat muslim mengucapkan “selamat” kepada umat agama lain yang sedang merayakan hari besar agamanya. Karena, sekali lagi, keikutsertaannya hanya dalam wilayah kultrual atau sosial saja, bukan dalam wilayah ritual atau ibadah.

Saya mengangkat tema ini karena saya pikir sikap toleran semacam ini sangat kita butuhkan demi terwujudnya sebuah relasi sehat antar umat beragama. Di tengah isu-isu “dikotomis” yang saat ini begitu mendominasi dengan berbagai wujud—dan tentu saja berpotensi konflik antar umat beragama--entah itu dalam: teori akademis seperti “Clash Of Civilization”; teori “perang agama” dalam perang Palestina-sekutu vis a vis Israel-sekutu—walau menurut pendapat saya itu bukan karena agama, namun lebih pada permasalahan geopolitik--; juga dalam dikotomi ideologi thagut (berhala) dan ideologi Tuhan seperti yang sering didengungkan para fundamentalis agama; laku hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan cinta sesama menjadi begitu niscaya. Karena hanya dengan saling menghargai, menghormati dan cinta-mencintai, tatanan hidup yang damai dan jauh dari perang dapat terwujud.

Perwujudan jalinan persaudaraan ini tentu bukan hanya dalam Idul Adha atau perayaan hari besar agama saja. Dalam hal atau segi apapun, pasti akan ada ruang bagi toleransi, celah untuk kita dapat saling menghargai dan berbagi. Catatannya: asal kita mau. Asal kita mau mewujudkan nilai-nilai persaudaraan,pasti terbuka beragam jalan dan bentuk. Saya tidak berniat untuk promosi atau apapun, namun secara pribadi saya mengucap salut pada Djarum Black dengan inovasi-inovasi promosinya, terutama inovasinya dalam membentuk komunitas-komunitas berdasarkan hobi atau minat pribadi. Bagi para penghobi mobil, Djarum Black membentuk Black Car Community. Sementara Black Motor Community dibentuk bagi mereka yang senang berinovasi dengan kendaraan roda duanya. Bagi saya ini sangatlah positif dan patut dicontoh oleh pihak-pihak  lain yang memiliki kepentingan promosi, karena inovasi promosi Djarum Black ini tidak “jualan” belaka yang hanya berorientasi profit, namun di dalamnya mengandung semangat persaudaraan dan kebersamaan yang diawali dalam lingkup kecil, yaitu orang-orang yang memiliki kesamaan minat atau hobi.


Terakhir saya berharap, dengan kita berbagi salam dan saling mengucap selamat kepada mereka yang liyan, dapat merekatkan tali hubungan di antara kita. Bukan hubungan acuh dan dingin, namun hubungan hangat yang intim. Ini juga yang menjadi pesan moral Islam. Saling jaga menjagai, cinta mencintai. Tak ada permusuhan, tiada peperangan.

Pemuda: Sebuah Otak-Atik Kata

Pe-muda. Pemu-da. P-e-m-u-d-a. Saya otak-atik kata “pemuda” ini menjadi beberapa variasi,mulai dari pemisahan imbuhan dari kata dasar, sampai menilik setiap huruf per huruf pembentuk kata ini—layaknya otak-atik Jawa—namun tetap saja saya tidak menemukan “sesuatu” di kata yang hari ini kita peringati bersama.

Sampai akhirnya sesuatu itu saya temukan (atau justru sesuatu itu yang menemukan saya) setelah saya mesandingkan kata “pemuda” ini dengan kata lain yang umum di masyarakat sehingga menjadi sebuah frasa. Seingat saya cukup banyak kata yang digabungkan dengan kata ini. Seperti, Pemuda

Selepas Tes CPNS

Hari ini aku tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Bukan CPNM (Calon Pegawai Negeri Militer). Kenapa? Jangan tanya, karena aku hanya akan menjawab "tak suka aja" dan kalian pun akan bersekongkol menudingku sedang bicara tak jujur. 

Kuikuti tes tanpa belajar tanpa persiapan. Bahkan pensil dan serutanpun mendadak beli di jalan. Penghapus, ah aku lupa si putih mungil itu. Lebih tepatnya malas beli! Karena aku yakin di sana akan ada orang baik yang baru saja kenalan namun telah langsung percaya. Dan benar saja, orang itu berkata, "Kalau mau silakan aja mas penghapusnya dibelah dua" Apa aku bilang kan? Hapus anggapan kalian bahwa tabiat dasar manusia itu adalah jahat nan aniyaya.

Memang tak ada persiapan.  Bangun kesiangan karena malamnya begadang guna otak-atik  template demi kepentingan kompetisi, plus wara-wiri ke blog-blog sobat, terutama ke blognya teman-teman di Black Community yang ikutan Djarum Black Blog Competition Vol II. Dan ternyata hasilnya  cukup memuaskan--sejauh penilaianku sendiri. Kini red-black mendominasi sekaligus menjadi karakter blogku ini. Tak terasa nongkrongin komputer sampai sekitar jam dua pagi. Lebih tak terasa karena sewaktu online "lembur" itu ditemani Djarum Black Slimz yang dipadu dengan bergelas-gelas capucinno. Mmh, mantap....!

Melihat soal-soalnya sih aku pede sekali. Walau jawabannya gak tau juga ya. Pede lulus dong? Tanyakan pada ibu atau teman-teman dekatku. Tiga tahunan terakhir, setiap aku selesai testing CPNS dan mendapat serbuan pertanyaan itu, hanya satu jawaban konsisten yang selalu keluar dari mulut tak bertulang ini: "Pede lulus!" Dan selama itu pula lidah memang benar-benar tak bertulang.Sebagai orang yang telah malang melintang di dunia pertestingan CPNS, aku tahu betul apa saja yang dikompetisikan dalam perebutan kursi anget-anget kuku PNS ini. Semuanya dirangkum dalam rumus 3 K: (Aku tak bermaksud mengingatkan sobat semua pada tokoh agama AA Gym)
  1. Kompetensi.
  2. (Katanya) kedekatan. Di dalamnya termasuk segala unsur.
  3. (Konon) keberuntungan atau milik.
Untuk point pertama, ini berkaitan erat dengan kemampuan akademik. Oh ya, ditambahkan sedkit: posisi duduk. Bukankah posisi menentukan prestasi? Saya sih agak ragu juga terkait opsi ini. Lho, kenapa? Saya kasih gambaran saja: IPK cukup gede, namun berjalan lurus dengan SP (Semester Pendek/Semester Penyelamat) yang banyak, itu namanya apa? Silakan menafsir. Sedikit tambahan, proses kuliahpun memerlukan waktu injury time satu tahun. 

Posisi duduk? Posisiku paling belakang. Bangku depan kosong, kanan juga tak hadir. Untuk yang kiri akunya telah terlanjur malu. Udah penjiem penghapus, masa mau dicontek juga?

Opsi ke dua, jelas aku tak punya. Relasi merupakan konsekuensi logis dari lingkungan atau pergaulan. Nah ini, kerja cuma nongkrongin komputer butut doang, kapan kenalan sama "mereka"nya? Ya keculai kalau "mereka" blogger juga. Tapi kayanya gak mungkin deh. Mereka kan kerjanya dengerin ide, bukan nuangin ide! Kalau fesbuker sih mungkin. Gak ada yang ngespos, ya udah ngespos diri.

Masa aku mau ngandelin kedekatanku dengan para Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dampinganku? Inget ya, kedekatan di sini artinya deket sama mereka yang sekolah, sekaligus berwenang. Sedangkan mereka, putus sekolah dan tak berkuasa. Masa iya testimoninya mau ada yang denger?

Untuk yang terakhir: milik, keberuntungan, kehendak alam, atau dalam bahasa agama: takdir. Ini cukup kompleks. Karena keberadaannya juga--meminjam judul lagu Utphia--antara Ada dan Tiada. Ada karena ia cukup sering kita temui. Ia dapat kita temukan dari seorang yang setia kawan yang nganter sahabatnya casting film. Eh taunya iya sendiri yang dapat peran. Jadi artis beken pula. 

Atau, berawal dari niat nyolong mangga pak haji, malah berjodoh sama anaknya yang ca'em nan sholehah itu. Sobatpun dapat menambah daftar persitiwa "milik" ini.

Sekaligus ia juga tiada. Karena kehadirannya tak dapat dipastikan sama sekali. Tak mungkin ada orang yang berpikir: Tiduran di rel kereta ah, kalau miliknya selamat mah, kereta juga gak bakalan ngelindes.  Atau, sudahlah besok hari kita dan anak-anak jangan makan dulu. Toh kalau miliknya harus kenyang, ya pasti kenyang!


Itulah milik. Ghaib dalam keberadaannya dan Ada dalam kegahaibannya. BIla kompetensi dan dan kedekatan itu masuk wilayah lahiriah yang dapat dipahami oleh alam pikiran, sedangkan milik atau keberuntungan berada dalam wilayah bathin. Ia tak bisa dipahami oleh akal, karena tempatnya bukan di sana. Namuni ia terletak di dalam ruang spiritual yang berada di diri. Ia tak dapat diperdebatkan, namun terbuka untuk dihayati. Itulah milik.

Ada juga sebagian orang yang mereduksi kehendak alam ini ke dalam nominal yang pasti. Matematis. Mereka selalu bilang, "Sebesar apapun upaya manusia dalam menggapai kehendak, itu hanya 99%. Belum seluruhnya, karena sisanya, 1% adalah kehendak Tuhan alias takdir"  

Walaupun cuma berkuantitas kecil (1%) namun ia banyak dijadikan tumpuan harapan kebanyakan orang. Mungkin karena ia penentu, penggenap. Lebih baik satu menggenapkan daripada 99 melenyapkan.

Dan pertanyaan kritis atas pandangan yang hampir mapan ini adalah: apa jaminannya kita telah mempersembahkan 99%, dan hanya menunggu sisanya saja? 

Adakah kita yang kegeeran? Atukah kita malas bergelut di 99% yang notebene ada dalam kendali kita, dan lebih senang memperhatikan 1% yang sebenarnya di luar kekuasaan dan kendali kita? Kalau jawabannya iya, bersiaplah mendapat julukan baru dari Covey: Si Manusia Reaktif. Adapun aku, telah duluan mendapatkannya  


 







 

Maaf. Ini Gelang Bukan Arloji!

Siang itu kota terasa gerah. Gerah ini hasil kolaborasi apik antara cuaca panas, jalanan macet, ditambah seorang sopir yang kurang memiliki kecerdasaan emosional. Siapa pun dijamin tak akan betah tinggal lama-lama dalam kotak berjalan yang bernama angkot dengan kondisi seperti itu.

Setengah perjalanan ke rumah dengan angkot ini kurasakan begitu berat seperti menjalani sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Indikasinya pun hampr serupa: lemah, letih, lesu, dan tentu saja bĂȘte alias bad mood. Siapa pun yang menyapaku saat itu, muluk kalau ia mengharapkan sekadar senyuman kecil atau basa basi penghias silaturahmi.

Angkot merapat ke samping kiri. Berhenti. Seorang penumpang pun bertambah. Tiba-tiba…
Fluktuasi emosi mendadak terjadi pada diriku. Daya vitalitas terasa merasuki tubuhku. Ia merambat dari ujung jari kaki, menelusuri aliran darah, hingga akhirnya sampai ke jantung. Kini kesegaran mengambil alih lesu yang dari tadi menduduki tubuh. Seperti malaikat yang

Karnaval Hantu


Penyingkapan hal-hal tersembunyi. Pelaziman sesuatu yang tabu. Sebetulnya sudah agak lama saya ingin menulis mengenai hal tersebut. Namun setiap kali akan memulai, ada suatu perasaan mengganjal dalam hati yang mengatakan bahwa ada suatu hal yang belum tuntas. Sesuatu itu bernama paradoks. 

Pelaziman dan penyingkapan hal yang tabu, tersembunyi, selalu meninggalkan paradoks: upaya simpatik mengangkat sesuatu yang “bayang-bayang” dalam kehidupan dan kesadaran masyarkat menjadi benar-benar realistis, namun sekaligus penelanjangan yang bukan pada tempatnya dan berakhir menjadi eksploitasi yang menyakitkan.

Kita masih ingat, beberapa tahun silam--walau sampai sekarang pun masih berlangsung dengan porsi yang agak menurun--saat fenomena gaib yang misterius disingkapakan dan disajikan begitu vulgar di media-media visual sehingga menjadi bagian dalam kehidupan

Bismillah dan Penilaian: Sebuah Prolog Djarum Black Blog Competition Vol II

Bismillah. Dengan kata inilah saya memulai. Setelah memastikan bahwa blog saya ini, www.insanitis37.com, telah masuk dalam daftar registered blog atau blog yang telah diregistrasi di kontes blog yang diselenggarakan oleh Djarum Black, yakni Djarum Black Blog Competition Vol II, spontan, saya mengucapkan kata itu: bismillah.

Seharusnya kata ini dilafazkan oleh semua umat muslim ketika mereka hendak melakukan suatu aktivitas. Terlepas besar-kecil, ringan-berat, mudah-susah aktivitas tersebut. Tapi entah kenapa, kata ini mengalami degradasi makna. Atau justru sebaliknya: peningkatan makna? Sekarang ini biasanya kita hanya mengucapkan kata ini tatkala dihadapkan pada suatu aktivitas yang besar atau penting saja. Tetapi kata ini kerap hilang dalam aktivitas yang remeh temeh dan sehari-hari. Akhirnya bismillah menjadi tanda pembuka bagi sesuatu yang “besar” atau juga sulit. Karena saya mengucapkan lafaz ini sesaat setelah saya resmi menjadi peserta Djarum Black Blog Competition Vol II maka kontes blog ini merupakan sesuatu yang “besar” dan penting bagi saya. Sekaligus menyenangkan. Sungguh, betapa

Hari Ini Aku Masuk Neraka

Jangan pernah kau bertanya padaku tentang secercah pelita atau cahaya berpijar

Karena sesungguhnya aku tengah hanyut dalam samudera gulita yang tak berdasar


Jangan pernah kau bertanya padaku tentang jalan lurus yang kan mengantarmu pulang

Karena sesungguhnya aku tengah terjebak dalam kesesatan nyata yang tak mungkin kau bayang


Jangan pernah kau bertanya padaku tentang awan putih atau cinta abadi

Bertanyalah padaku tentang kabut keabadian dan hawa benci

Bertanyalah padaku tentang sembilu yang selalu menyat hati para khianat, menggores semua jiwa terlunta

Bertanyalah padaku tentang angin malam yang selalu berhembus mehngantar sepi mencekam, sesal yang meradang.

Bertanyalah padaku tentang derita tanpa akhir, siksa tak berampun.

Karena hari ini aku berada di neraka. 


[Hari ini aku masuk neraka. Namun siapa tahu, besok lusa atau beberapa jam ke depan, Sang Ridwan akan mengirimiku sepucuk surat dengan perihal: Pemanggilan Calon Surga. Tanpa lampiran]

Award: Dari dan Untuk Sahabat


Lagi-lagi Jum'at. Lagi-lagi beruntung. Ah sudahlah, jangan terlalu di ada-ada, direka menjadi seolah realita. Itu kan hanya kebetulan saja. Dan jangan pernah beredebat denganku tentang adakah konsep "kebetulan"? Karena kutahu hujahmu terlalu kuat untuk kuterjang. Hujah tentang kosep "di-betul-kan". 

Di wahana blog ini, alam mempertemukan saya dengan seorang wanita nan baik hati. Tak terlalu penting apakah ia tidak sombong dan rajin menabung. Karena sebentuk award ini telah cukup memmbangun persepsi tentang ia yang dermawan dan ramah hati.


Ia tak turun dari kayangan, namun bidadari manapun pasti memendam iri padanya. Secantik dan sesempurna apapun bidadari, saya jamin tak akan memiliki ilmu potret. Ya, itulah Mba Cicin Hadiyati, wanita cantik yang jago photo. Cobalah sobat semua berkunjung ke "rumah"nya: Galeri Fhoto, dan bersiaplah untuk melihat dan menganga. Hasil jepretannya begitu memikat. Walau saya awam mengenai seni photo, namun rasa pendeteksi indah  belumlah mati. Ia terasa jelas di hati. Indah


Sekali lagi, untuk Mba Cicin Hadiyati, terima kasih dari hati. Semoga Mba senantiasa bahagia di semua alam.


Untuk mengenang awardnya Mba Cicin ini, maka aku akan menapaki jejaknya, mencontoh sunnahnya. Bila ia bagikan kembali award dari sahabatnya pada sahabatnya yang lain, maka akupun akan melakukan demikian. Semoga dengan ini ia merasa lebih dihargai.


Baiklah, akan kubagi award ini kepada beberapa sobat blogger. Untuk award ini, karena berasal dari seorang seniman, maka akupun akan membagikannya pada sobat-sobat blogger yang memiliki interesting terhadap seni. Dan biar tak terlalu melebar, maka award kali ini saya batasi hanya akan diserahkan kembali pada sobat blogger yang concern terhadap seni sastra.



Award ini juga sebagai bentuk rasa salut saya pada sobat semua. Di saat dunia blog tengah ricuh dengan kegiatan business, dan semakin identik dengan alam Hi-Tech, namun kalian masih konsisten menyikapi blog secara konvensional, yaitu sebagai wahana penuangan ide-ide personal. Kalianpun racik ide-ide itu dengan sangat indah sekaligus menggugah, dengan caranya masing-masing. Ada yang berupa artikel, diary, puisi, sajak, prosa, cerita, dan sebangsanya. Semuanya tetap indah.



Bailah, saya tuliskan nama-nama sobat blogger penerima award ini:
Terahir dari saya, semoga award ini menjadi penyemangat sobat semua dalam berkarya.
Semoga berkenan...

[Catatan: Gambar awward ini tidak mengandung backlink pada blog ini]

Sebuah Award, Belalang, dan Tanpa Filosofi

Jum'at. Inilah wedal atau wetonku. Konon hari ini pula yang menjadi hari baik buatku di antara enam hari lainnya. Karena tak mau dilabeli musyrik oleh sebagaian kawan islamis, akupun menyatakan diri tak mempercayainya. Walau jauh di alam bawah sadar, tersimpan kepercayaan kecil padanya. Ia terselip di antara akal sehat dan rasa spiritual. Mungkin ini warisan dari para leluhurku yang notabene USA (urang Sunda asli). Karena "ilmu" yang telah “mendarah daging” akan terrekam dalam gen manusia dan dapat terwariskan secara biologis. Mungkin dengan proses alamiah inilah “ilmu” menjaga diri dari kepunahannya.

Bukan bermaksud untuk "menyambung-nyambungkan". Juga tidak memaksakan korelasi tak tepat antar peristiwa demi menyokong suatu pendapat absurd agar terlihat konkrit. Namun
di hari inilah, Jum'at, wedalku, aku mendapat satu anugerah. Anugerah itu berupa penghargaan atau award dari salah satu sahabat blogger. Sahabat ini selalu menyajikan tulisan ringan nan sehari-hari namun dimaknai sedemikian rupa
sehingga bisa tampil dan ditilik dari sisinya yang lain. Mengubah peristiwa remeh temeh menjadi sesuatu yang layak diperhitungkan. Ia wanita (menghindari penggunaan kata per-empu-an),menamai dirinya "new soul". (Mba) Elly Suryani nama aslinya. Melihat title blognya saja: "Life With Your Own Vision" akan memaksa kita untuk menilai bahwa Mba Elly ini seorang yang teguh, tak terambing dengan visi-visi asing di luar dirinya, walau semapan dan sepopular apapun visi yang liyan itu. "Sendiri melawan dunia Mba?" Heheh.

Inilah wujud apresiasinya padaku.Terlepas dari mana asal award ini bermulai.



Belalang. Kenapa meski belalang? Apakah ada filosofi di sana? Saya yakin pasti ada. Bukankah selama ini kita percaya bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki nilai filosofis? Iseng-iseng, saya coba bertanya pada ibuku. Siapa tahu kearifan yang tersimpan dalam usia jelang senjanya dapat menawar rasa penasaran yang bermain nakal di hati. Seperti mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya mencipta (tentu saja yang belum ada) ibuku hanya menjawab, "Ah jelek!"
Oh, belalang juga berkonotasi jelek ya? Tapi kenapa tak dipakai Polri ya, malah lebih memilih buaya yang tak setia itu? Selorohku dalam hati.

Karena masih dahaga tentang sesuatu di balik belalang, akupun mencoba googling dengan keyword: Filosofi Belalang, karena terinspirasi dari judul buku Dewi 'dee' Lestari: Filosofi Kopi. Namun link yang ditampilkan di halaman pertama tak ada satupun yang relevan dengan "filosofi belalang". Sayapun teringat bahwa google saat ini telah menjadi arena adventure menantang yang dihuni para master SEO. Tak ada tempat bagi para filsuf! Mana mau filsuf optimasi search engine, hehe. Pencarian via dukun sakti Googlepun nihil. Akhirnya akupun tak tahu apa filosofi yang dapat diambil dari seekor serangga yang identik dengan Ksatria Baja Hitam itu.

Di saat itulah muncul perasaan ganjil dalam hati. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Perasaan absurd itupun mulai bergerak dan mencari bentuk, hingga sempurnalah dalam sebaris kalimat reflektif: “Apakah segala sesuatu harus selalu mengandung nilai filosofis?” Pertanyaan ini mengantarkan pada sebuah pertanyaan selanjutnya: Apakah sesuatu tidak bisa menjadi netral dan biasa-biasa saja, sehingga dapat dilewatkan begitu saja?

Filosofi tentu saja merupakan produk manusia. Karena ialah yang kuasa untuk mempersepsi, melakukan interpretasi, dan berakhir dalam pemaknaan atau pemberian nilai atas suatu fenomena. Kopi tidak memberi nilai bagi dirinya sendiri, sampai Ben, tokoh utama dari cerita Filosfi Kopi karya Dewi ‘dee’ Lestari,memberi makna bagi dirnya (kopi) sehingga muncullah “filosofi kopi”. Padi berbuah ya padi berbuah saja. Sampai akhinya ada orang yang merasa tergugah melihat pohon padi yang semakin berbuah namun tubuhnya semakin menunduk. Maka lahirlah istilah “ilmu padi” yang berarti--kurang lebih—tetap rendah hati dengan ilmu dan pencapaian yang dimiliki.

Itu semua mengantarkan saya pada sebuah pemahaman subjektif bahwa segala sesuatu di luar manusia adalah tak berwana.Tak berjenis. Netral. Kitalah sebagai penafsir yang melakukan pewarnaan dan pelabelan terhadap mereka. Sebagai manusia, dengan akal budi, kita memberi sesuatu pada dunia di luar kita sehingga akhirnya merekapun memiliki makna, nilai dan filosofi. Namun secara tak sadar sebenarnya kita tengah terjebak dalam sikap congkak dan berlaku totaliter. Sewenang-wenang dalam menafsir dan menilai sesuatu yang belum tentu sesuatu itu sesuai dengan tafsiran kita. Manusialah sebenarnya yang mencipta ini menjadi begini dan itu menjadi begitu, tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk menjadi dirinya sendiri, apa adanya. Tanpa nilai dan tanpa filosofi.

Sikap seperti ini saya rasa relevan dilakoni saat dunia tengah dipenuhi banyak persepsi dan dijejali berjuta interpretasi. Yang mana sebagian atau keseluruhan interpretasi itu bisa jadi menyesatkan.Karena sejelas dan segamblang apapun kita mempersepsi, namun tetap saja sang pengamat berjarak dari yang diamati.

Sebagai ilustrasi, coba lihat barisan interpretasi atas fenomena bencana alam yang akhir-akhir ini sering melanda Negeri kita: gejala alam biasa, ujian, sampai laknat Tuhan. Yang mana yang paling benar? Jawabannya adalah tidak tahu. Karena seperti yang telah saya sampaikan di atas, kitalah yang menterjemahkan, yang memberi nilai.Sedangkan tentang sejatinya fenomena itu sendiri, hannyalahTuhan dan dirinya sendiri yang tahu. Bukankah akan lebih bijak bila memandang bencana itu hanya sebatas bencana saja. Tanpa dibarengi dengan tudingan yang belum tentu benar.

Akhirnya akupun menghentikan pencarian atas filosofi belalang. Biarlah belalang menjadi belalang, tanpa harus direduksi dengan sebuah penilian yang berbatas dan identik dengan kepentingan manusia. Saat ini aku lebih memilih hanya menjadi penikmat dan pengagum belalang saja. Hanya itu. Tak ada interpretasi. Tanpa Filosofi.

[Tambahan: Bagi sobat yang penasaran dengan filosofi belalang, silakan berkunjung ke rumahnya Mba Elly. Di sana ada dua post menarik tentang belalang: Pak Belalang dan Bu Daun; dan Belalang Yang Smart Enough]